Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 13:16 WIB
Foto: Shutterstock
Foto: Shutterstock

 

RadarBangkalan.id - Banyak masyarakat masih menganggap diabetes identik dengan konsumsi obat atau suntik insulin seumur hidup. Padahal, menurut diabetologist sekaligus Founder mGanik, dr Kelvin Candiago, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, terutama pada diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 erat kaitannya dengan pola hidup. Kondisi ini juga kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan kelompok usia 20-an tahun. Hal tersebut disampaikan dr Kelvin saat menjadi narasumber dalam program detikPagi.

Baca Juga: Odontektomi Gigi Bungsu Ditanggung BPJS? Ini Syarat dan Alur yang Perlu Diketahui

 

Menurut dr Kelvin, sebagian anak muda merasa sudah menjalani gaya hidup sehat karena rutin berolahraga, seperti bermain padel atau pergi ke gym. Namun, pola makan dan kebiasaan sehari-hari masih belum teratur.

Ada yang sudah mengurangi minuman manis, tetapi masih sering begadang, jarang bergerak di luar waktu olahraga, atau memiliki jadwal makan yang tidak teratur.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memicu resistensi insulin. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal sehingga kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan.

Baca Juga: Agnes Ngetich Pecahkan Rekor Dunia Half Marathon Wanita, Catat Pace 3:34

Baca Juga: Pemuda Gresik Histeris Saat Digerebek Polisi, 15 Paket Sabu Ditemukan di Kos Surabaya

Komplikasi Diabetes Lebih Perlu Diwaspadai

Jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus menjadi perhatian. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) yang dikutip dalam materi ini, Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta pengidap diabetes dan menempati peringkat kelima dunia berdasarkan jumlah kasus.

Baca Juga: Guru Yoga 103 Tahun Ungkap 5 Kebiasaan Sederhana yang Membuatnya Tetap Bugar

Namun, menurut dr Kelvin, persoalan diabetes bukan hanya mengenai tingginya jumlah kasus. Komplikasi akibat diabetes yang tidak ditangani dengan baik juga perlu diwaspadai.

"Yang ditakuti dari diabetes itu komplikasinya. Padahal sebelum itu terjadi, mereka sudah mengalami diabetes yang panjang dulu," jelas dr Kelvin, dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).

"Karena diabetes itu menyerang pembuluh darah, dan mereka nggak merasakan gejala apa-apa," sambungnya.

Sebagian besar penderita diabetes merupakan penyandang diabetes tipe 2. Dalam materi ini disebutkan sekitar 90-95 persen penderita diabetes masuk dalam kategori tersebut.

Kondisi itu membuat perubahan pola hidup menjadi bagian penting dalam upaya mencegah maupun mengendalikan diabetes tipe 2.

Baca Juga: Bukan Cuma Teka-teki, Ini 7 Aktivitas yang Sering Disukai Orang Ber-IQ Tinggi

Baca Juga: 24 Daerah Jatim Darurat Kekeringan, Salat Istisqa' Mulai Digelar untuk Memohon Hujan

Dokter Sarankan Kurangi Karbohidrat dan Gula

Dr Kelvin menyarankan perubahan pola makan dilakukan secara konsisten. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah mengurangi jumlah karbohidrat dan tambahan gula dalam makanan.

"Trick yang biasanya saya sampaikan ke pasien, paling nggak di setiap makanan, jumlah karbohidrat atau tambahan gulanya dikurangi. Perbanyak protein, cukupi serat, karbohidratnya dibatasi," saran dr Kelvin.

Baca Juga: BGN Pecat Karyawan SPPG yang Diduga Ejek Korban Keracunan MBG dari Karo

Ia juga memberikan saran bagi orang yang tetap ingin mengonsumsi makanan ringan atau makanan penutup.

"Kalau mau snack atau dessert, taruh di akhir saja biar nggak berlebihan," sambungnya.

Selain pola makan, aktivitas fisik dan kebiasaan sehari-hari juga perlu diperhatikan. Olahraga saja tidak selalu cukup apabila tidak diikuti dengan pola makan dan rutinitas yang lebih teratur.

Diabetes Tipe 2 Bisa Mengalami Remisi

Harapan untuk mengendalikan diabetes hingga mencapai kondisi remisi bukan tanpa dasar ilmiah. Sejak 2019, American Diabetes Association (ADA) telah memperkenalkan istilah diabetes remission atau remisi diabetes.

Baca Juga: Terjerat Utang Rp100 Juta dan Kena PHK, Pria Ini Curi 10 Motor di Mojokerto

Remisi diabetes merujuk pada kondisi ketika kadar gula darah dapat kembali berada dalam rentang tertentu tanpa bantuan obat penurun gula darah selama periode yang ditentukan.

Salah satu indikator yang digunakan adalah HbA1c. Pemeriksaan tersebut menggambarkan rata-rata kadar gula darah seseorang dalam sekitar tiga bulan terakhir.

Baca Juga: Odontektomi Gigi Bungsu Ditanggung BPJS? Ini Syarat dan Alur yang Perlu Diketahui

Dalam materi ini, pasien disebut mencapai remisi apabila HbA1c berada di bawah 6,5 persen secara konsisten selama minimal tiga bulan tanpa menggunakan obat penurun gula darah.

Namun, remisi bukan berarti diabetes otomatis sembuh permanen. Kondisi tersebut tetap membutuhkan pemantauan dan perubahan gaya hidup secara konsisten agar kadar gula darah tetap terkendali.

mGanik Gunakan Pendekatan Medikasi, Nutrisi, dan Monitoring

Untuk membantu pasien mengelola diabetes, dr Kelvin membangun mGanik dengan tiga pendekatan, yakni Medikasi, Nutrisi, dan Monitoring.

Pendekatan tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pemantauan dapat dilakukan melalui perkembangan HbA1c, pengaturan pola makan, serta monitoring secara rutin.

Bagi dr Kelvin, keberhasilan mengubah kebiasaan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar perubahan yang dilakukan. Konsistensi justru menjadi hal yang penting.

Baca Juga: Pemuda Gresik Histeris Saat Digerebek Polisi, 15 Paket Sabu Ditemukan di Kos Surabaya

"Jangan putus asa, karna pasti ada jalannya. Percaya aja harus kasih perubahan di pola makan, ikutin saran-saran dari dokternya," kata dr Kelvin.

Baca Juga: 28 Siswa MI di Jember Keracunan Usai Santap MBG, Susu Kedelai Disorot

Perubahan tidak harus dilakukan secara drastis. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan diabetes tipe 2.

"Dengan perubahan sedikit tapi konsisten itu pasti sangat bermanfaat," pungkasnya.

Editor : Ubaidillah
resistensi insulin pengobatan diabetes diabetes diabetes tipe 2