Pelihara Ayam Petelur di Rumah, Benarkah Lebih Hemat daripada Beli Telur?

Ubaidillah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 09:00 WIB
Kandang baterai yakni kandang kotak bersekat untuk memelihara ayam petelur. Foto: Getty Images/Edy waluyo Nugroho
Kandang baterai yakni kandang kotak bersekat untuk memelihara ayam petelur. Foto: Getty Images/Edy waluyo Nugroho

 

RadarBangkalan.id - Memelihara ayam petelur sendiri di rumah bisa menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan telur keluarga sekaligus mengurangi pengeluaran. Namun, jika dihitung secara keseluruhan, apakah memelihara ayam benar-benar lebih hemat dibanding membeli telur?

Jawabannya tidak sesederhana membandingkan harga telur. Ada sejumlah biaya yang perlu diperhitungkan, mulai dari modal membuat kandang, membeli ayam, menyediakan pakan hingga biaya dan tenaga untuk merawat ayam setiap hari.

Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?

Selain soal biaya, kebersihan kandang juga perlu diperhatikan agar kotoran ayam tidak menimbulkan bau maupun menjadi sumber masalah bagi lingkungan sekitar.

Modal Awal Pelihara Ayam Petelur

Pengalaman Rita, content creator yang mengelola Kebun Samara di Seyegan, Yogyakarta, menunjukkan bahwa modal awal memelihara ayam petelur bisa berbeda-beda tergantung jumlah ayam dan kondisi kandang.

Saat pertama kali memelihara delapan ekor ayam, Rita mengeluarkan sekitar Rp2 juta. Biaya tersebut mencakup kandang, atap, lantai, ayam hingga pakan awal.

Sementara itu, Lili Suwali, pensiunan di Bekasi yang mulai memelihara ayam petelur di rumah pada Juni 2026, membuat kandang yang disesuaikan dengan kondisi rumahnya. Kini, ia memelihara sekitar 20 ekor ayam petelur.

Baca Juga: Bukan Cuma Kurang Minum, Ini Kebiasaan yang Bisa Diam-diam Merusak Ginjal

Meski harus mengeluarkan modal di awal, Lili menilai memproduksi telur sendiri tetap lebih hemat dibandingkan membeli telur di pasaran.

"Saya merasa lebih hemat produksi telur sendiri dibanding beli," ujar Lili.

Baca Juga: Ambulans BPJS Watch Bawa Jenazah ke Sampang Diduga Dihalangi Oknum Satpol PP Surabaya

Namun, menghemat pengeluaran bukan satu-satunya alasan Lili memelihara ayam. Setelah pensiun, ia ingin memiliki aktivitas yang bisa mengisi kesehariannya sekaligus memberikan kesenangan.

Pakan Jadi Biaya Rutin yang Harus Dihitung

Setelah modal awal, pakan menjadi salah satu pengeluaran utama yang harus diperhitungkan. Berbeda dengan biaya kandang yang umumnya dikeluarkan di awal, pakan merupakan kebutuhan rutin selama ayam dipelihara.

Lili, misalnya, menghabiskan sekitar Rp370.000 untuk satu karung pakan berisi 30 kilogram setiap bulan untuk 20 ekor ayam petelur.

Sementara itu, Rita yang sudah hampir dua tahun memelihara ayam petelur mengatakan kenaikan harga pakan membuat selisih antara biaya pakan dan telur yang dihasilkan semakin tipis.

Ia mencontohkan, harga telur dari peternak saat ini berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram, sedangkan harga pakan terus meningkat.

Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya

Menurut pengalaman Rita, kondisi tersebut membuat hasil dari telur yang diproduksi tidak selalu memberikan keuntungan besar.

"Jadi memang saat-saat ini, untuk pelihara ayam sama beli pakannya itu agak mepet. Bahkan kadang malah rugi sih, Mbak," tutur Rita.

Baca Juga: Odontektomi Gigi Bungsu Ditanggung BPJS? Ini Syarat dan Alur yang Perlu Diketahui

Padahal, ketika baru mulai memelihara sekitar delapan ekor ayam, perhitungannya masih terasa lebih menguntungkan.

Saat itu, harga pakan sekitar Rp7.500 per kilogram. Delapan ekor ayam dapat menghabiskan sekitar satu kilogram pakan dalam satu hingga dua hari dan menghasilkan kurang lebih 16 butir telur dalam dua hari.

Dengan harga telur sekitar Rp27.000 per kilogram pada waktu itu, Rita masih melihat adanya selisih dari hasil telur yang diperoleh.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hitung-hitungan memelihara ayam petelur dapat berubah mengikuti harga pakan dan harga telur.

Karena itu, calon pemelihara ayam tidak cukup hanya menghitung harga ayam dan perkiraan telur yang dihasilkan. Biaya pakan sebagai kebutuhan rutin juga harus dimasukkan dalam perhitungan.

Baca Juga: 28 Siswa MI di Jember Keracunan Usai Santap MBG, Susu Kedelai Disorot

Baca Juga: BGN Pecat Karyawan SPPG yang Diduga Ejek Korban Keracunan MBG dari Karo

Telur dari Ayam Sendiri Apakah Lebih Terjamin?

Selain pertimbangan ekonomi, memelihara ayam petelur sendiri juga memberikan keuntungan dari sisi keterlacakan makanan yang dikonsumsi ayam.

Baca Juga: Pria Bratang Gede Surabaya Ditangkap, Pesan Sabu dari Bangkalan untuk Dijual

Dokter spesialis gizi klinik, dr Ulfa Yaze, SpGK, mengatakan pemilik ayam dapat mengetahui lebih banyak mengenai proses pemeliharaan yang berkaitan dengan telur yang akan dikonsumsi.

"Kalau untuk diri sendiri sebenarnya kita lebih tahu apa makanan yang ayam makan, vitamin yang dikasih ke ayamnya, habis itu ayamnya sakit apa enggak," jelas dr Yaze.

Meski demikian, telur dari ayam yang dipelihara sendiri tidak otomatis lebih sehat. Kondisi ayam, pakan, kebersihan kandang serta cara menangani telur tetap perlu diperhatikan.

Artinya, kualitas telur tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memelihara ayam, tetapi juga bagaimana ayam dirawat dan bagaimana telur ditangani setelah dihasilkan.

Keuntungan Memelihara Ayam Tak Hanya Soal Uang

Bagi Lili, memelihara ayam petelur bukan semata-mata cara untuk menghemat biaya membeli telur.

Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes

Memasuki masa pensiun membuat aktivitas rutin menjadi penting baginya. Sebelumnya, Lili sudah memiliki kegiatan berkebun. Memelihara ayam kemudian menambah rutinitas baru yang ia jalani setiap hari.

Ia juga mendapatkan kesenangan dari aktivitas merawat ayam dan melihat hasil telur yang dihasilkan.

Hal serupa dirasakan Rita. Menurutnya, pengalaman memelihara ayam memberikan nilai yang tidak bisa dihitung hanya berdasarkan harga telur.

"Ternyata ada kesenangan lain yang bisa kita dapat dibanding cuma sekadar kita beli telur di warung, kan itu juga berkegiatan, jadi rutinitas," jelas Rita.

Dengan demikian, memelihara ayam petelur di rumah bisa terasa hemat bagi sebagian orang, tetapi belum tentu memberikan penghematan yang sama bagi orang lain.

Perhitungannya tidak hanya mencakup harga telur, tetapi juga modal kandang, pembelian ayam, pakan, waktu, tenaga, serta perawatan sehari-hari.

Selain itu, kebersihan kandang perlu menjadi perhatian agar kotoran ayam tidak menimbulkan bau dan mengganggu lingkungan sekitar. Dengan perhitungan biaya dan perawatan yang tepat, pemilik dapat mengetahui apakah memelihara ayam petelur sesuai dengan kebutuhan dan kondisi rumahnya.

Editor : Ubaidillah
ayam petelur sustainable lifestyle sustainable living urban farming ketahanan pangan