RadarBangkalan.id - Penggunaan obat antivirus Oseltamivir pada anak yang mengalami influenza sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Pemberian obat perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan berdasarkan pertimbangan dokter.
Ahli farmakologi Dr dr Dewi Selvina Rosdiana, MKes mengatakan, meta-analisis yang membandingkan penggunaan Oseltamivir dengan placebo pada anak berusia di bawah 18 tahun dengan influenza tanpa komplikasi dan menjalani rawat jalan menemukan adanya manfaat tertentu.
Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan
Perbedaan yang bermakna secara statistik terlihat ketika Oseltamivir diberikan kurang dari 24 jam setelah gejala influenza muncul. Manfaat tersebut juga terlihat pada anak berusia di bawah 6 tahun serta anak tanpa asma yang infeksinya terbukti disebabkan oleh virus influenza melalui pemeriksaan laboratorium.
Oseltamivir Kurangi Durasi Sakit Kurang dari Sehari
Menurut dr Dewi, Oseltamivir memang secara statistik dapat memperpendek durasi penyakit. Namun, perbedaan waktu kesembuhan antara anak yang mendapatkan Oseltamivir dan placebo relatif kecil.
"Oseltamivir ini betul dapat memperpendek durasi penyakit secara statistik, namun kalau kita lihat pemberian Oseltamivir ini pada kelompok anak tadi dengan virus influenza tanpa komplikasi di rawat jalan itu hanya mengurangi durasi sakit, kelamaan sakit rata-rata sekitar 18 jam, kurang dari satu hari," katanya dalam konferensi pers, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?
Dr Dewi menggambarkan perbedaan tersebut secara sederhana. Jika anak yang mendapatkan Oseltamivir sembuh pada pagi hari, anak yang mendapatkan placebo atau tidak memperoleh Oseltamivir mungkin baru sembuh pada malam harinya.
Dengan demikian, perbedaan durasi penyakit antara kedua kelompok tersebut hanya kurang dari satu hari.
Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes
Belum Ada Bukti Manfaat Klinis yang Bermakna
Meta-analisis tersebut melibatkan sekitar 2.500 anak yang mengalami influenza tanpa komplikasi dan menjalani perawatan rawat jalan.
"Artinya berdasarkan bukti yang ada saat ini studi meta-analisis ini dilakukan pada 2.500 sekian pasien anak yang sakit dengan influenza tanpa komplikasi yang dengan rawat jalan, ini belum terdapat bukti yang cukup kuat bahwa Oseltamivir memberikan manfaat klinis yang bermakna dalam memperpendek lama sakit," katanya.
Karena itu, pemberian Oseltamivir pada anak perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien dan tidak dilakukan tanpa arahan tenaga medis.
Oseltamivir pada Anak Bisa Menimbulkan Efek Samping
Selain melihat manfaat, penelitian tersebut juga menunjukkan adanya risiko efek samping pada anak yang mendapatkan Oseltamivir.
Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya
Salah satu efek samping yang ditemukan adalah muntah. Anak yang mendapatkan Oseltamivir memiliki risiko mengalami muntah lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan placebo atau tidak memperoleh obat tersebut.
"Anak yang mendapatkan Oseltamivir memiliki risiko mengalami efek samping muntah 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mendapatkan placebo atau tidak mendapatkan obat Oseltamivir," katanya.
Temuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan penggunaan obat antivirus influenza pada anak.
Baca Juga: Odontektomi Gigi Bungsu Ditanggung BPJS? Ini Syarat dan Alur yang Perlu Diketahui
Siapa yang Perlu Mendapat Obat Antivirus Influenza?
Penggunaan obat antivirus untuk influenza diprioritaskan pada pasien dengan kondisi tertentu.
The US Center for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan antivirus untuk terapi influenza terutama pada pasien yang memerlukan rawat inap, pasien dengan kondisi berat atau komplikasi, serta pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.
Karena itu, kebutuhan Oseltamivir tidak dapat disamaratakan untuk setiap anak yang mengalami influenza.
"Penggunaan Oseltamivir disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan harus berdasarkan pertimbangan dokter," pungkasnya.
Editor : Ubaidillah