RadarBangkalan.id - Keluhan mengenai sulitnya mendapatkan obat antivirus oseltamivir sebelumnya ramai dibahas di media sosial. Seorang warga bahkan mengaku telah mendatangi sejumlah rumah sakit di wilayah Jakarta Utara hingga Jakarta Barat untuk mencari obat tersebut.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalusia mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran masyarakat di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan informasi mengenai ketersediaan oseltamivir di sejumlah fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Oseltamivir untuk Anak Flu Tak Boleh Sembarangan, Ini Temuan Studi
"Kami memahami kekhawatiran masyarakat dalam beberapa hari terakhir ini terkait meningkatnya perhatian terhadap influenza A dan sulitnya memperoleh obat antivirus oseltamivir di sejumlah rumah sakit," kata Rizka dalam konferensi pers, Senin (28/9/2026).
Kemenkes meminta masyarakat tidak melakukan panic buying dengan membeli oseltamivir secara berlebihan. Sebab, tidak semua pasien influenza membutuhkan obat antivirus tersebut.
"Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau oseltamivir ini," ujarnya.
Menurut Rizka, sebagian besar kasus influenza yang tidak disertai tanda bahaya dapat ditangani dengan istirahat yang cukup dan menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
Baca Juga: 11 Siswa Keracunan MBG, SPPG Gowa Pattallassang Kembali Beroperasi
Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan
Oseltamivir Tidak untuk Dikonsumsi Sembarangan
Rizka menegaskan oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau dikonsumsi sebagai langkah pencegahan tanpa penilaian medis. Pemberian obat tersebut harus berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter.
Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?
Oseltamivir terutama diberikan kepada pasien influenza dengan kondisi berat yang menjalani perawatan di rumah sakit. Obat tersebut juga diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid serta kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Kelompok yang berisiko tersebut antara lain:
- Anak berusia di bawah 2 tahun.
- Lansia berusia di atas 65 tahun.
- Ibu hamil.
"Oseltamivir ini perlu diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter," kata Rizka.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan antibiotik apabila tidak terdapat infeksi sekunder yang memang membutuhkan pengobatan tersebut.
Kemenkes Percepat Distribusi Oseltamivir
Kemenkes memastikan terus mengupayakan ketersediaan oseltamivir bagi pasien yang membutuhkan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempercepat proses importasi dan distribusi obat.
Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes
Menurut Rizka, oseltamivir telah didistribusikan ke sekitar 196 rumah sakit. Distribusi akan terus dilakukan berdasarkan kebutuhan yang disampaikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan.
"Saat ini sudah dilakukan distribusi ke sekitar 196 rumah sakit dan akan terus dilakukan distribusi berdasarkan kebutuhan yang masuk kepada kami," jelasnya.
Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya
Selain mempercepat distribusi, pemerintah telah melakukan perencanaan pengadaan oseltamivir berdasarkan data surveilans influenza. Kemenkes juga berkoordinasi dengan rumah sakit pemerintah dan swasta untuk memperkirakan kebutuhan obat.
Pengadaan dilakukan melalui berbagai sumber, termasuk produksi dalam negeri dan importasi melalui jalur khusus. Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi keterlambatan produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhan.
Oseltamivir Tidak Boleh Dibeli Tanpa Resep
Rizka mengimbau masyarakat tidak membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep dokter dan kebutuhan medis yang telah ditentukan oleh tenaga kesehatan.
Masyarakat juga tidak disarankan menggunakan obat milik orang lain, menggandakan dosis, atau menghentikan maupun melanjutkan terapi tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Penggunaan oseltamivir yang tidak sesuai indikasi medis dalam jangka panjang juga berisiko membuat virus influenza menjadi kurang sensitif terhadap antivirus atau mengalami resistensi.
Baca Juga: Odontektomi Gigi Bungsu Ditanggung BPJS? Ini Syarat dan Alur yang Perlu Diketahui
Karena itu, masyarakat diminta mencari informasi mengenai influenza A dan penggunaan oseltamivir dari sumber resmi, seperti Kemenkes, Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan puskesmas.
"Masyarakat bukan membeli obat sebanyak-banyaknya, melainkan mengenali gejala, mengetahui tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat," kata Rizka.
Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala berat, kondisi memburuk, atau gejala muncul pada kelompok yang memiliki risiko komplikasi.
Pemerintah terus memantau distribusi oseltamivir agar obat tersebut tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan dan diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Editor : Ubaidillah