Berapa Heart Rate yang Aman Saat Olahraga? Dokter Jelaskan Rumus dan Batasnya

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:15 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/jacoblund)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/jacoblund)

 

RadarBangkalan.id - Pembahasan mengenai heart rate (HR) atau denyut jantung saat olahraga menjadi perhatian setelah seorang dokter jantung mendapat koreksi dari netizen di media sosial terkait batas denyut jantung yang dianggap aman.

Sebelumnya, seorang dokter jantung melalui Threads mengimbau para pelari yang melakukan easy run untuk menjaga HR di bawah 80 persen dari denyut jantung maksimal. Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari seorang netizen yang mempertanyakan perhitungan batas HR saat olahraga.

Baca Juga: Oseltamivir untuk Anak Flu Tak Boleh Sembarangan, Ini Temuan Studi

"Ya pikir pake logika aja Bro. Max HR 200.kalo 50℅ nya aja berarti 100? Siapa zone 2 di HR segitu? Atlet? Aneh itungan lu Bro. Kalo namanya easy, selama yg ngejalanin nya merasa easy. Sah2 aja," tulis akun @tiger*** dikutip Senin (28/9/2026).

Lantas, berapa sebenarnya batas denyut jantung saat olahraga dan bagaimana cara menghitungnya?

Cara Menghitung Heart Rate Maksimal

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular, dr Rachmat Hamonangan, Sp.PD-KKV, FINASIM, FACP, FICA dari RS St. Carolus Jakarta, menjelaskan bahwa salah satu rumus yang umum digunakan untuk memperkirakan HR maksimal adalah 220 dikurangi usia.

Namun, dr Rachmat mengingatkan bahwa kemampuan seseorang mencapai persentase HR maksimal tidak bisa disamakan, terutama antara pemula dan orang yang sudah terlatih.

Baca Juga: 11 Siswa Keracunan MBG, SPPG Gowa Pattallassang Kembali Beroperasi

"Tapi untuk mencapi 100 persen (saat olahraga), orang ini harus cukup dulu terlatih. Kalau kita yang masih awal-awal beginner, ya 50 sampai 70 persen lah," kata dr Rachmat kepada detikcom usai acara detikSore, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Remaja 16 Tahun Ini Bisa Ingat Detail Hidup Sejak Usia 3 Bulan, Kok Bisa?

Menurutnya, bagi orang yang baru mulai berolahraga, perhitungan HR juga dapat mempertimbangkan denyut jantung saat istirahat.

Contoh Menghitung HR untuk Pemula

dr Rachmat memberikan contoh seseorang berusia 40 tahun. Berdasarkan rumus 220 dikurangi usia, perkiraan HR maksimal orang tersebut adalah 180 denyut per menit.

Namun, untuk menentukan intensitas latihan bagi pemula, denyut jantung istirahat juga dapat diperhitungkan.

"Misalnya nadi maksimal dia, orang 40 tahun ya, itu kan 220 dikurangi 40 jadinya 180 (maksimal HR). Nanti dikurangi lagi deh, misalnya nadi istirahat dia berapa? Misalnya nadi istirahat 70, berarti kan 110 (180-70 nadi istirahat)," katanya.

"Misalnya dia masih baru (pemula) berarti kan 50 persen dari 110 itu, ditambah 70. Itu 50 persen untuk mereka yang masih moderate exercise," sambungnya.

Dengan contoh tersebut, perhitungan intensitas olahraga bagi pemula tidak hanya melihat angka HR maksimal, tetapi juga mempertimbangkan denyut jantung saat istirahat.

Baca Juga: Santri Difabel di Gresik Diduga Disetrika Senior hingga 2 Kali, Kini Trauma ke Ponpes

Bagaimana dengan Orang yang Sudah Terlatih?

Sementara itu, orang yang sudah terbiasa melakukan olahraga dengan latihan yang terstruktur dapat menggunakan perhitungan HR maksimal sebagai salah satu acuan.

"Kalau memang kita sudah terbiasa, kita biasa latihan apalagi dengan monitoring personal trainer silakan. Para atlet malah bisa lebih dari itu (HR maksimal)," katanya.

Baca Juga: Balita 3 Tahun di Pamekasan Meninggal di ICU, Keluarga Ceritakan 5 Hari Menanti Rujukan

Menurut dr Rachmat, intensitas olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kebugaran masing-masing individu.

"(Kalau orang biasa) pasti nggak akan sanggup malah membahayakan. Kalau orang yang baru mulai, ya mulai dari moderate tadi atau mild to moderate lah, kenaikannya sekitar 50-70 persen dari nadi istirahat," tutupnya.

Dengan demikian, angka HR saat olahraga tidak bisa diterapkan secara sama kepada semua orang. Tingkat kebugaran, pengalaman berolahraga, denyut jantung saat istirahat, serta jenis dan intensitas latihan perlu menjadi pertimbangan.

Baca Juga: Diabetes Tak Selalu Harus Minum Obat Seumur Hidup, Dokter Ungkap Peluang Remisinya

Editor : Ubaidillah
heart rate denyut jantung dokter jantung kesehatan jantung