1 dari 13 Orang Usia 18-29 Tahun Ternyata Sudah Punya Plak di Arteri

Ubaidillah • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 06:22 WIB
Foto: Ilustrasi sakit jantung (Getty Images/Nansan Houn)
Foto: Ilustrasi sakit jantung (Getty Images/Nansan Houn)

 

RadarBangkalan.id - Penumpukan plak di arteri yang dapat memicu penyumbatan ternyata bisa dimulai jauh lebih awal dari yang diperkirakan. Sebuah studi internasional menemukan sekitar 1 dari 13 orang dewasa berusia 18-29 tahun sudah mengalami aterosklerosis tanpa gejala, meski tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

Studi yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine pada Agustus 2026 tersebut juga menemukan lebih dari separuh orang dewasa sehat yang diteliti memiliki tanda-tanda plak di setidaknya satu bagian arteri.

Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru

 

Plak Ditemukan pada Lebih dari Separuh Peserta

Dikutip dari NYPost, penelitian ini melibatkan lebih dari 16.800 orang dewasa berusia 18-70 tahun dari Denmark dan Spanyol. Seluruh peserta tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

Dengan menggunakan teknologi pencitraan canggih, peneliti menemukan plak pada 57,1 persen peserta.

Prevalensi plak meningkat seiring bertambahnya usia. Pada kelompok usia di bawah 30 tahun, sekitar 1 dari 13 orang sudah memiliki tanda aterosklerosis. Sementara pada kelompok usia 60-70 tahun, jumlahnya meningkat hingga hampir 9 dari 10 orang.

Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung

Aterosklerosis terjadi ketika lemak, kolesterol, dan zat lainnya menumpuk di dalam dinding arteri. Proses tersebut dapat berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala sebelum akhirnya berkontribusi terhadap penyakit jantung atau stroke.

Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan

"Selama beberapa dekade, kita telah memperkirakan risiko kardiovaskular menggunakan faktor-faktor seperti usia, tekanan darah, dan kolesterol," kata dr Borja Ibáñez, seorang ahli jantung dan direktur ilmiah Pusat Penelitian Kardiovaskular Nasional Spanyol (CNIC), dalam sebuah pernyataan.

"Studi ini menunjukkan bahwa kita sekarang dapat melangkah lebih jauh dan mendeteksi penyakit tersebut secara langsung sebelum menyebabkan serangan jantung atau stroke," tambahnya.

Deteksi Aterosklerosis Sejak Dini

Temuan tersebut berasal dari fase pertama studi internasional REACT yang masih berlangsung. Penelitian ini bertujuan memetakan seberapa umum aterosklerosis tanpa gejala terjadi pada orang dewasa.

Pada tahap berikutnya, peneliti akan menguji apakah deteksi plak sejak dini dapat membantu meningkatkan upaya pencegahan penyakit kardiovaskular.

"Hingga saat ini, keputusan pencegahan didasarkan pada perkiraan risiko, tetapi kita tidak tahu apakah penyakit itu sudah ada," kata Henning Bundgaard, profesor kardiologi di Rigshospitalet di Kopenhagen.

"REACT menunjukkan bahwa aterosklerosis dapat dideteksi beberapa dekade sebelum manifestasi klinis muncul dan menyediakan atlas paling komprehensif tentang evolusi penyakit sepanjang kehidupan dewasa."

Baca Juga: Usus Bermotif 'Kulit Macan' Akibat Obat Pencahar Bisa Normal Lagi? Ini Kata Dokter

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan plak dapat muncul sebelum seseorang mengalami gejala penyakit jantung. Namun, keberadaan plak tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami serangan jantung atau stroke.

Pria Cenderung Mengalami Plak Lebih Awal

Penelitian tersebut juga menemukan adanya perbedaan pola perkembangan plak antara pria dan wanita.

Baca Juga: Berawal dari Tilang Motor Protolan, Polisi di Batu Kejar Pengedar Narkoba

Pria cenderung mulai mengembangkan plak sekitar 5-10 tahun lebih awal dibandingkan wanita. Sementara itu, wanita mengalami peningkatan prevalensi plak yang paling tajam pada rentang usia 40-60 tahun.

Para ahli menilai temuan tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan jantung sejak usia muda. Meski demikian, keberadaan plak tidak seharusnya membuat seseorang langsung panik.

"Menemukan plak bukan berarti seseorang akan mengalami serangan jantung, tetapi menemukannya memberi kita kesempatan untuk mengatasi faktor risiko pasien," kata dr Sirisha Vadali, seorang ahli kardiologi di HonorHealth Women's Heart Health di Arizona yang tidak terlibat dalam penelitian ini, dikutip dari Fox News.

"Kita tidak seharusnya menunggu gejala muncul baru mulai memperhatikan kesehatan jantung. Merasa sehat tidak selalu berarti arteri Anda bebas dari plak," tambahnya.

Untuk membantu menjaga kesehatan jantung, Vadali menyarankan masyarakat aktif secara fisik, menghindari rokok, serta mengonsumsi makanan yang kaya sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan ikan.

Baca Juga: Daftar Bansos Cair Oktober 2026: PKH, BPNT hingga Beras 30 Kg

Sebaliknya, konsumsi lemak jenuh dan natrium berlebihan perlu dibatasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan kardiovaskular.

Editor : Ubaidillah
faktor risiko plak arteri aterosklerosis kesehatan jantung