RadarBangkalan.id - Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, memastikan tidak ditemukan kasus penyakit pes di antara orang-orang yang melakukan kontak dengan pekerja laboratorium penyakit pes di Siberia yang meninggal pekan lalu.
Pekerja laboratorium perempuan berusia 28 tahun tersebut meninggal pada Jumat di tengah kekhawatiran internasional. Namun, otoritas Rusia menyatakan penyebab kematiannya adalah pneumonia yang hingga kini belum diketahui dan pemeriksaan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru
Pemeriksaan terhadap kontak pasien
Rospotrebnadzor menyatakan tidak ada penyakit menular yang dilaporkan di antara staf institut penelitian penyakit pes di Irkutsk selama 10 hari terakhir.
Pemeriksaan ekstensif terhadap pekerja laboratorium yang meninggal juga tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya.
"Serangkaian langkah antiepidemi segera diorganisasi dan diterapkan sepenuhnya sesuai dengan peraturan kesehatan masyarakat," kata Rospotrebnadzor.
Otoritas kemudian mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien dan menempatkan mereka di bawah pengawasan medis di rumah sakit. Pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap hari sebagai langkah pencegahan.
Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung
Hasil pemeriksaan menemukan dua kasus COVID-19 dan dua kasus infeksi rhinovirus. Namun, tidak ditemukan patogen lain yang menjadi penyebab penyakit menular.
"Tidak ada satu pun kontak yang menunjukkan perubahan kondisi kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular," tambah Rospotrebnadzor.
Baca Juga: Usus Bermotif 'Kulit Macan' Akibat Obat Pencahar Bisa Normal Lagi? Ini Kata Dokter
Sebagian warga yang dikarantina mulai dibebaskan
Elena Sofina, wakil kepala Distrik Shelekhov dekat Irkutsk, mengatakan diagnosis yang disebutnya sebagai "berbahaya" tersebut belum terkonfirmasi.
Menurutnya, sekitar 60 persen orang yang sebelumnya ditempatkan dalam karantina sebagai langkah pencegahan telah dibebaskan. Media lokal sebelumnya melaporkan sekitar 200 orang sempat menjalani karantina.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa juga menyatakan Rusia telah memberi tahu mereka bahwa tidak ada kasus penyakit pes di Kota Irkutsk.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah pernyataan tersebut berarti Rusia telah sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan penyakit pes pada pekerja laboratorium yang meninggal.
Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan
Baca Juga: Berawal dari Tilang Motor Protolan, Polisi di Batu Kejar Pengedar Narkoba
Aktivitas warga Shelekhov tetap berjalan normal
Di Kota Shelekhov, tempat pekerja laboratorium tersebut dilaporkan meninggal di rumah sakit, warga mengatakan kehidupan sehari-hari hampir tidak terganggu.
Sebagian warga memang sempat mengenakan masker bedah sebagai langkah pencegahan. Namun, aktivitas masyarakat secara umum tetap berlangsung seperti biasa.
Seorang warga yang hanya menyebutkan namanya sebagai Anna mengatakan situasi di kota tetap tenang. Warga sempat bersiap jika pembatasan diberlakukan, tetapi kehidupan sehari-hari tidak mengalami perubahan berarti.
"Semua orang punya masker di rumah dan memakainya tidak lebih dari 24 jam," kata Anna kepada Reuters.
Warga lainnya, Denis, mengatakan kabar mengenai kematian pekerja laboratorium tersebut menjadi pembicaraan di masyarakat.
Ia menyebut rumah sakit setempat sempat menghentikan pemeriksaan diagnostik untuk sementara waktu, tetapi layanan kemudian kembali berjalan seperti biasa.
Editor : Ubaidillah