Tidur Cuma 2 Jam Sebelum Half Marathon? Dokter Ungkap Risikonya

Ubaidillah • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:41 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Pavel1964)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Pavel1964)

 

RadarBangkalan.id - Tidur cukup menjadi salah satu persiapan penting bagi pelari sebelum mengikuti Half Marathon (HM). Namun, sebagian pelari mengaku hanya tidur sekitar dua jam pada malam sebelum race karena sulit terlelap akibat antusiasme atau ketegangan menjelang lomba.

Kondisi tersebut kemudian menjadi perdebatan di kalangan pelari. Ada yang mengaku tetap mampu berlari meski kurang tidur, sementara pelari lainnya memilih mengantisipasi dengan memperbanyak waktu tidur beberapa hari sebelum race atau yang biasa disebut "nabung tidur".

Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru

Kurang tidur bisa memengaruhi performa pelari

Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO, mengatakan kurang tidur sebelum race berpotensi membuat performa lari menurun.

"Secara performa jelas bakal nurun, nggak bilang pasti sih tapi paling nggak most likely bakal nurun. Belum ngomongin dari fungsi kardiorespirasi, terutama kita ngomongin pompa jantungnya," kata dr Dhika kepada detikcom, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, kurang tidur juga dapat berkaitan dengan peningkatan heart rate atau denyut jantung. Kondisi tersebut dapat membuat denyut jantung lebih mudah meningkat ketika berlari.

"Karena kan kalau kurang tidur tuh, masalah heart rate-nya udah naik. Artinya pasti akan lebih gampang naik HR-nya, dan membatasi performa dan ngomongin risiko. Karena semakin tinggi heart rate semakin tinggi risikonya," sambungnya.

Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung

Dengan demikian, pelari yang hanya tidur dua jam sebelum mengikuti HM tidak sebaiknya menjadikan pengalaman tersebut sebagai patokan. Respons tubuh setiap orang dapat berbeda, sementara kurang tidur berpotensi memengaruhi performa dan respons kardiovaskular saat berlari.

Baca Juga: Daftar Bansos Cair Oktober 2026: PKH, BPNT hingga Beras 30 Kg

Sulit tidur menjelang race bisa diatasi

dr Dhika memahami bahwa antusiasme menjelang perlombaan terkadang membuat pelari sulit memejamkan mata. Meski begitu, ada sejumlah cara sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu tubuh lebih rileks.

"Mulai dari yang simpel-simpel misalnya memastikan cahaya lampu mati, nggak ada suara yang mengganggu, kemudian bisa teknik pernapasan kayak box breathing," katanya.

Pelari juga kerap melakukan "nabung tidur" dengan memperbanyak waktu tidur pada beberapa hari sebelum race. Namun, strategi tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai pengganti tidur yang cukup pada malam sebelum perlombaan.

Bagaimana jika tetap membutuhkan bantuan obat?

Menurut dr Dhika, jika seseorang benar-benar membutuhkan bantuan obat untuk tidur, terdapat pilihan yang dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan keamanan penggunaannya.

"Tapi kalau bicaranya memang benar-benar butuh obat, yang bisa dibantu dengan obat-obatan yang mungkin aman ya, nggak langsung obat penenang gitu. Mulai dari penggunaan melatoni, mungkin sampai obat anti-mabuk perjalanan itu juga bisa dipakai buat tidur," tutupnya.

Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan

Pelari sebaiknya tidak sembarangan mengonsumsi obat atau menggunakan obat tertentu untuk memaksakan tidur menjelang race. Jika mengalami gangguan tidur yang berulang atau membutuhkan obat, konsultasi dengan tenaga medis menjadi pilihan yang lebih aman.

Editor : Ubaidillah
kurang tidur kesehatan olahraga half marathon performa pelari