RadarBangkalan.id - Berobat ke rumah sakit mungkin menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Yudha Satria Suhendar (26), warga Kabupaten Sukabumi, setiap perjalanan untuk mendapatkan pengobatan menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan penglihatannya.
Yudha harus menjalani pengobatan di tengah kondisi penglihatannya yang terus menurun akibat keratoconus bilateral atau keratoconus yang terjadi pada kedua mata. Kini, ia masih menanti donor kornea untuk menjalani tindakan transplantasi.
Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru
Kornea Yudha Menipis akibat Keratoconus
Keratoconus merupakan kondisi ketika kornea mata menipis dan perlahan menonjol ke luar hingga membentuk seperti kerucut. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketajaman penglihatan.
Pada Yudha, keratoconus terjadi pada kedua matanya sehingga aktivitas sehari-hari hingga proses berobat menjadi lebih sulit.
"Tantangan terbesar saya adalah keterbatasan penglihatan, sehingga aktivitas sehari-hari dan berobat menjadi lebih sulit," cerita Yudha kepada detikcom, Selasa (6/10/2026).
Sekitar satu tahun lalu, Yudha sebenarnya telah menjalani tindakan Corneal Cross-Linking (CXL) di Pusat Mata Nasional (PMN) RS Mata Cicendo, Bandung.
Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung
Prosedur tersebut dilakukan untuk memperkuat kornea. Namun, kondisi kornea Yudha yang sudah sangat tipis membuat tindakan CXL belum mampu memperbaiki fungsi penglihatannya secara optimal.
Dokter kemudian memutuskan bahwa Yudha membutuhkan tindakan cangkok atau transplantasi kornea.
Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan
Setahun Menanti Donor Kornea
Persoalan berikutnya muncul ketika Yudha harus menunggu donor kornea. Tidak adanya kepastian kapan donor tersedia menjadi tantangan tersendiri selama proses pengobatan.
Selain harus menghadapi keterbatasan penglihatan, masa penantian tersebut juga menjadi ujian psikologis bagi Yudha.
"Kendalanya lebih kepada proses menunggu donor kornea yang cukup lama dan belum ada kepastian kapan mendapatkannya. Tapi dokter juga memberikan harapan bahwa kondisi saya masih bisa ditangani dengan cangkok kornea, jadi saya tetap optimis," lanjutnya.
Meski harus menunggu, Yudha memilih tetap optimistis karena masih memiliki peluang untuk mendapatkan penanganan melalui transplantasi kornea.
Biaya Pengobatan Ditanggung BPJS Kesehatan
Di tengah panjangnya proses menunggu donor, Yudha mengaku mendapat sedikit kelegaan karena biaya pengobatan dan tindakan medis yang dijalaninya selama ini dapat ditanggung BPJS Kesehatan.
Kini, harapannya tertuju pada ketersediaan donor kornea agar ia dapat segera menjalani transplantasi dan memiliki kesempatan untuk melihat lebih baik.
Yudha juga berharap pemerintah dapat meningkatkan akses terhadap fasilitas serta jaringan donor organ di Indonesia.
Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan
"Harapan saya semoga bisa segera mendapatkan donor dan punya kesempatan untuk melihat lebih baik serta hidup lebih mandiri. Untuk pemerintah, saya berharap akses donor kornea dan proses transplantasi bisa lebih mudah, cepat, dan merata bagi masyarakat yang membutuhkan," tegasnya.
Pesan Yudha untuk Sesama Pejuang Keratoconus
Di tengah perjuangannya menunggu kepastian donor, Yudha juga memberikan pesan kepada orang-orang yang menghadapi keratoconus maupun gangguan penglihatan lainnya.
Ia mengajak para penderita untuk tidak mudah menyerah dan tetap saling memberikan dukungan selama menjalani proses pengobatan.
"Untuk teman-teman sesama pejuang, jangan mudah menyerah dan tetap saling menguatkan," tutup Yudha.
Editor : Ubaidillah