Psikolog Ungkap Manfaat Petak Umpet, Ternyata Anak Belajar Strategi dan Berpikir

Ubaidillah • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:31 WIB
Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

 

RadarBangkalan.id - Bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang anak. Menurut psikolog klinis Cania Mutia, permainan yang terarah dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir, menyusun strategi, berkomunikasi, hingga bersosialisasi dengan teman sebaya.

Hal tersebut disampaikan Cania dalam talkshow Morinaga Door Of Future bertajuk 'Dunia Generasi Platinum Advance Intelligence Lab' di Pakuwon Mall Yogyakarta, Jumat (9/10/2026). Ia menjelaskan bahwa permainan sederhana seperti petak umpet dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar berbagai keterampilan.

Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?

"Karena ternyata bermain itu satu hal yang sangat penting. Bermain adalah salah satu konteks penting bagi perkembangan. Karena ternyata dari bermain yang terarah anak juga bisa jadi cerdas," kata Cania, Jumat (9/10/2026).

Petak Umpet Bantu Anak Belajar Menyusun Strategi

Cania mencontohkan permainan petak umpet yang sering dianggap hanya sebagai hiburan. Padahal, ketika memilih tempat persembunyian agar tidak ditemukan, anak sedang berlatih berpikir dan menentukan strategi.

"Kita sih bilangnya cuma petak umpet ya gitu. Tapi padahal di situ mereka belajar strategi. Biasanya sembunyinya di mana. Nah, ternyata bermain tuh anak belajar banyak banget gitu," ucapnya.

Baca Juga: Apel vs Pisang untuk Diet, Mana yang Lebih Ampuh Menurunkan Berat Badan?

Melalui permainan, anak mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai cara, membuat keputusan sederhana, dan memahami akibat dari pilihan yang diambil. Proses tersebut dapat membantu melatih kemampuan memecahkan masalah sesuai tahap perkembangannya.

Baca Juga: Dapur MBG di Mojokerto Disuspend, Kepala SPPG Jabon Mojoanyar Dicopot

Bermain Bersama Teman Melatih Komunikasi dan Sosialisasi

Selain mengembangkan kemampuan berpikir, permainan bersama teman sebaya juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar berinteraksi. Anak dapat berlatih menyampaikan keinginan, memahami aturan permainan, bergiliran, dan bekerja sama.

Interaksi tersebut juga dapat memperkaya kosakata anak ketika mereka mendengar dan mempelajari kata-kata baru dari lingkungan sekitarnya.

"Di situ mereka belajar komunikasi, belajar bersosialisasi, bahkan juga mungkin belajar bahasa dari kata-kata yang didapatnya dari anak tetangga," ungkap Cania.

Karena itu, kegiatan bermain bersama dapat menjadi salah satu cara bagi anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan bahasa dalam suasana yang menyenangkan.

Peran Orang Tua: Dampingi Anak Tanpa Terlalu Mengintervensi

Menurut Cania, orang tua memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan bermain yang aman dan mendukung perkembangan anak. Namun, pendampingan tersebut sebaiknya tidak membuat anak kehilangan kesempatan untuk bereksplorasi dan belajar secara mandiri.

Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung

"Sebagai orang tua kita punya tanggung jawab untuk memilihkan lingkungannya apa nih yang membantu anak gitu. Tapi bisa didapatkan dengan bermain yang terarah. Asalkan orang tuanya jangan terlalu mengintervensi. Kita juga harus memberikan kebebasan anak untuk belajar," terangnya.

Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru

Orang tua dapat membantu dengan memilih permainan yang sesuai usia, memastikan lingkungan tetap aman, serta memberikan arahan ketika dibutuhkan. Setelah itu, anak perlu diberi ruang untuk mencoba, membuat keputusan sederhana, dan menemukan cara menyelesaikan tantangannya sendiri.

Cania menegaskan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berlangsung melalui kegiatan formal di ruang belajar. Permainan yang terarah juga dapat menjadi bagian dari proses anak memahami lingkungan dan mengembangkan kemampuannya.

"Jadi memang pembelajaran itu bisa didapatkan tidak hanya dengan duduk diam di kursi. Tapi bisa didapatkan dengan bermain yang terarah. Asalkan orang tuanya jangan terlalu mengintervensi," jelas Cania.

Ia menambahkan, kesempatan mengeksplorasi lingkungan dapat memberikan pengalaman baru yang mendukung proses belajar anak.

"Jadi kita juga harus memberikan kebebasan anak untuk belajar. Sebagai orang tua kita punya tanggung jawab untuk memilihkan lingkungannya apa nih yang membantu anak," pungkasnya.

Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan

Dengan memberikan ruang bermain yang aman, terarah, dan sesuai usia, orang tua dapat membantu anak belajar sambil bersenang-senang. Kuncinya bukan hanya memilih permainan yang tepat, tetapi juga mendampingi tanpa mengambil alih seluruh proses belajar anak.

Editor : Ubaidillah
morinaga kecerdasan anak psikologi anak