RadarBangkalan.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyoroti penggunaan media sosial yang berpotensi memicu kecemasan pada anak muda di Indonesia. Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain di media sosial dinilai dapat menimbulkan tekanan, terutama ketika seseorang hanya melihat sisi keberhasilan yang ditampilkan di internet.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa remaja dan dewasa muda merupakan kelompok yang mendominasi penggunaan layanan internet. Padahal, unggahan di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh karena bisa saja hanya menampilkan sisi terbaiknya.
Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan
Media Sosial Memicu Kebiasaan Membandingkan Diri
Menurut Imran, media sosial membuat seseorang lebih mudah melihat pencapaian orang lain, termasuk mereka yang memiliki keistimewaan atau keuntungan tertentu dalam hidupnya. Kondisi ini dapat mendorong seseorang membandingkan keadaan dirinya dengan kehidupan yang terlihat di internet.
"Internet itu kan sepertinya mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa yang terjadi di 'seberang' sana. Idolanya seperti apa. Kesukesannya seperti apa. Padahal sebetulnya, yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hanya hasilnya saja," ungkap Imran ketika ditemui awak media di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).
Ia mencontohkan, seseorang bisa merasa tertinggal ketika melihat orang lain seusianya mampu membeli barang mewah, sementara dirinya belum memiliki kemampuan finansial yang sama.
"Itu akhirnya yang membuat cemas, kok dia di umurku ini bisa beli Porsche, saya kok masih naik motor. Sehingga dia membandingkan dengan orang lain," sambungnya.
Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru
Perbandingan tersebut dapat menimbulkan kecemasan karena seseorang hanya melihat hasil akhir yang dipamerkan, tanpa mengetahui proses, latar belakang, maupun kondisi sebenarnya di balik kehidupan orang lain.
Kematangan Berpikir Berperan dalam Menghadapi Tekanan
Imran menilai kemampuan seseorang dalam menyikapi fenomena sosial berkaitan dengan tingkat kematangan berpikir atau maturitas. Semakin matang seseorang dalam memahami realitas, semakin besar kemampuannya untuk membedakan kehidupan nyata dari gambaran yang ditampilkan di media sosial.
Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung
Ia juga menyoroti perkembangan otak pada usia muda. Menurutnya, proses pematangan otak masih berlangsung sebelum seseorang memasuki usia 20 tahun sehingga kemampuan mengolah dan memahami suatu situasi masih berkembang.
"Dari referensi-referensi studi yang sudah dilakukan, memang otak itu sebetulnya matur, pada usia sekitar 20-an. Kalau sebelum umur 20, otak masih berkembang, sehingga dia masih, kalau ada suatu hal, otak itu mencernanya, belum secara benar," tandasnya.
Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?
Karena itu, paparan media sosial perlu disikapi secara bijak. Unggahan yang memperlihatkan kesuksesan atau kemewahan seseorang tidak seharusnya dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai keberhasilan diri sendiri.
Editor : Ubaidillah