RadarBangkalan.id - Curhat masalah kesehatan mental kepada chatbot kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT, kini semakin banyak dilakukan. Namun, psikiater mengingatkan agar pengguna tetap mengenali kebutuhan diri sendiri, berpikir kritis, dan tidak menjadikan chatbot sebagai pengganti bantuan profesional ketika menghadapi masalah kesehatan mental.
Spesialis kesehatan jiwa, Dr. dr. Hervita Diatri, SpKJ, SubspKom(K), mengatakan penggunaan ChatGPT untuk bercerita atau mencari informasi perlu dilakukan secara rasional. Pengguna harus mampu menilai apakah respons yang diberikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Baca Juga: Kemenkes Ungkap Media Sosial Bisa Picu Kecemasan Anak Muda, Ini Penyebabnya
Kenali Kebutuhan Diri dan Tetap Berpikir Kritis
Menurut Hervita, mengenali diri sendiri merupakan langkah penting sebelum menggunakan chatbot AI untuk membicarakan persoalan pribadi. Dengan memahami kondisi dan kebutuhan diri, seseorang dapat menentukan jenis bantuan yang tepat.
Pengguna juga perlu mempertimbangkan jawaban chatbot secara kritis, bukan langsung menerima seluruh respons sebagai sesuatu yang benar atau sesuai dengan kondisi mereka.
"'Tetap harus digunakan rasionalnya. Ini saya apa nggak, ya? Ini cocok nggak dengan saya atau nggak?'," ujar dr Hervita kepada detikcom setelah acara temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?
Ia menambahkan, komunikasi dengan AI belum tentu mampu memenuhi kebutuhan seseorang akan interaksi dan umpan balik langsung dari manusia. Jika penggunaan chatbot tidak lagi cukup membantu, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.
Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan
"Lalu kalau dirasakan penggunaan itu ternyata tidak bisa menghentikan keinginan teman-teman untuk berkomunikasi langsung tahu mendapatkan jawaban, feedback, karena kan manusia butuh manusia kan, ya mungkin ada baiknya teman-teman ke profesional" sambungnya.
Puskesmas Bisa Menjadi Tempat Mencari Bantuan
Hervita menyebut puskesmas sebagai salah satu pilihan layanan kesehatan yang dapat diakses masyarakat ketika membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga terus berupaya memperluas akses layanan psikolog di puskesmas agar masyarakat lebih mudah mendapatkan dukungan kesehatan mental.
Selain mendatangi fasilitas kesehatan, masyarakat dapat mencari layanan konseling melalui saluran bantuan yang tersedia. Salah satu layanan yang disebutkan Hervita adalah hotline Kemenkes di nomor 119.
"Tapi yang paling penting, teman-teman paling tahu apa yang terjadi dalam diri teman-teman," pungkasnya.
Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru
Baca Juga: Kisah Xu Ziting, Blogger 25 Tahun yang Berjuang Melawan Kanker Lambung
Chatbot AI Tidak Menggantikan Bantuan Profesional
Penggunaan chatbot AI dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan atau mencari informasi awal. Meski demikian, pengguna tetap perlu memeriksa informasi yang diterima dan memahami keterbatasan AI dalam menilai kondisi kesehatan mental seseorang.
Baca Juga: Dapur MBG di Mojokerto Disuspend, Kepala SPPG Jabon Mojoanyar Dicopot
Apabila masalah yang dihadapi terus mengganggu aktivitas sehari-hari, semakin berat, atau membutuhkan penanganan khusus, konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang sesuai dapat membantu menentukan langkah berikutnya.
Editor : Ubaidillah