Divonis Kanker Stadium 4, Molly Hones Alami Remisi Usai Ikut Uji Coba Vaksin Kanker

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 06:47 WIB
Ilustrasi. (Foto: iStock)
Ilustrasi. (Foto: iStock)

 

RadarBangkalan.id - Molly Hones, perempuan berusia 31 tahun yang didiagnosis mengidap kanker langka stadium 4, dilaporkan mengalami remisi total setelah mengikuti uji klinis obat eksperimental berbasis vaksin kanker. Lima bulan setelah mulai menerima terapi pada April 2024, kanker yang diidapnya dilaporkan tidak lagi terdeteksi.

Sebelumnya, kanker langka bernama fibrolamellar carcinoma yang dialami Molly telah menyebar hingga ke tulang dan aliran darah setelah tumor besar di hatinya diangkat. Sempat bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, Molly akhirnya memilih mengikuti uji klinis dengan harapan dapat membantu perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendapatkan kesempatan pengobatan.

Baca Juga: Curhat Masalah Mental ke ChatGPT? Psikiater Ingatkan Hal Penting Ini

 

Memahami Cara Kerja Vaksin Kanker

Vaksin kanker merupakan salah satu pendekatan pengobatan yang dikembangkan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker. Berbeda dari vaksin untuk mencegah infeksi, vaksin kanker terapeutik dirancang untuk membantu tubuh melawan kanker yang sudah ada.

Pendekatan ini bekerja dengan memperkenalkan target tertentu dari sel kanker kepada sistem imun. Dengan begitu, sel kekebalan tubuh diharapkan dapat mengenali sel kanker dan menyerangnya secara lebih terarah.

Namun, vaksin kanker tidak selalu memberikan hasil yang sama pada setiap pasien. Efektivitasnya bergantung pada jenis kanker, karakteristik tumor, kondisi pasien, serta kombinasi terapi yang digunakan. Kemungkinan mencegah kanker kambuh juga masih perlu dinilai melalui penelitian dan pemantauan jangka panjang.

Baca Juga: Kemenkes Ungkap Media Sosial Bisa Picu Kecemasan Anak Muda, Ini Penyebabnya

"Ini adalah momen di mana kita benar-benar dapat menyembuhkan kanker dengan memanfaatkan vaksin kanker bersama terapi pendukung lainnya. Kita berada di ambang perubahan besar bagi penderita kanker," ujar Kristen Dahlgren, perwakilan dari Parker Institute for Cancer Immunotherapy kepada NYPost.

Baca Juga: Kanker Kolorektal Mulai Banyak Menyerang Anak Muda, Gejalanya Sering Dikira Masalah Pencernaan

Dua Pendekatan Vaksin Kanker yang Dikembangkan

Secara umum, penelitian vaksin kanker mencakup pendekatan yang menargetkan karakteristik tumor yang relatif sama pada banyak pasien dan pendekatan yang dirancang khusus untuk masing-masing individu.

1. Vaksin kanker siap pakai (off-the-shelf)

Vaksin jenis ini dirancang untuk menargetkan antigen atau perubahan molekuler yang ditemukan pada kelompok pasien dengan jenis kanker tertentu. Karena tidak harus dibuat secara khusus untuk setiap pasien, pendekatan ini berpotensi mempermudah produksi dan distribusi.

Meski demikian, target vaksin harus sesuai dengan karakteristik kanker pasien agar dapat memberikan manfaat.

2. Vaksin kanker personal (personalized cancer vaccine)

Vaksin personal dirancang berdasarkan karakteristik tumor masing-masing pasien. Peneliti dapat menganalisis materi genetik tumor untuk mengidentifikasi target yang berpotensi dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, kemudian mengembangkan vaksin yang sesuai.

Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?

Teknologi mRNA menjadi salah satu pendekatan yang diteliti dalam pengembangan vaksin kanker personal. Perusahaan farmasi seperti Moderna turut mengembangkan teknologi ini untuk sejumlah jenis kanker.

Penelitian vaksin kanker personal telah dilakukan pada melanoma atau kanker kulit dan berbagai jenis kanker lainnya. Namun, tahapan uji klinis dan bukti efektivitasnya berbeda-beda untuk setiap jenis kanker.

Baca Juga: Apel vs Pisang untuk Diet, Mana yang Lebih Ampuh Menurunkan Berat Badan?

Vaksin Kanker Masih Terus Diteliti

Meski hasil sejumlah penelitian memberikan harapan baru, vaksin kanker belum menjadi pengobatan yang terbukti efektif untuk seluruh jenis kanker. Hasil positif pada satu pasien atau kelompok kecil pasien juga belum cukup untuk memastikan terapi tersebut akan berhasil pada pasien lain.

Pengembangan vaksin kanker personal menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari analisis tumor, proses produksi yang rumit, waktu pembuatan, hingga biaya yang tinggi. Para peneliti terus berupaya membuat proses tersebut lebih cepat dan terjangkau.

Kasus Molly Hones menjadi gambaran potensi pendekatan imunoterapi dalam penanganan kanker. Namun, remisi yang dilaporkan pada dirinya tidak berarti semua pasien kanker stadium 4 dapat memperoleh hasil serupa. Penanganan kanker tetap perlu disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi setiap pasien melalui konsultasi dengan tim medis.

Baca Juga: Dapur MBG di Mojokerto Disuspend, Kepala SPPG Jabon Mojoanyar Dicopot

Editor : Ubaidillah
imunoterapi vaksin kanker remisi kanker kanker kesehatan