Depresi Bukan Berarti Kurang Bersyukur, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Pengobatan

Ubaidillah • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 06:51 WIB
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Thai Liang Lim)
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Thai Liang Lim)

 

RadarBangkalan.id - Depresi bukan berarti seseorang kurang bersyukur atas kehidupannya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan bahwa gangguan kesehatan mental perlu dipahami dan ditangani secara tepat, bukan dihakimi hanya karena seseorang dianggap memiliki kehidupan yang berkecukupan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa kemampuan setiap orang dalam menghadapi sumber stres atau stressor berbeda-beda. Karena itu, rasa syukur tetap penting, tetapi tidak dapat menggantikan pengobatan ketika seseorang sudah membutuhkan bantuan medis.

Baca Juga: Curhat Masalah Mental ke ChatGPT? Psikiater Ingatkan Hal Penting Ini

Mengapa Depresi Tidak Bisa Dianggap sebagai Kurang Bersyukur?

Di masyarakat, orang yang mengungkapkan kesedihan atau merasa terpuruk terkadang mendapat respons yang menyalahkan, seperti dianggap kurang bersyukur atau terlalu banyak mengeluh. Padahal, kondisi kesehatan mental seseorang tidak bisa dinilai hanya dari keadaan ekonomi, pencapaian, atau hal-hal baik yang dimilikinya.

Menurut Imran, setiap orang mempunyai kemampuan berbeda dalam menghadapi tekanan. Situasi yang dapat diatasi oleh seseorang belum tentu terasa ringan bagi orang lain.

"Kadarnya orang menerima stressor itu juga tidak sama, sehingga, bersyukur itu memang penting, tapi kalau sudah pada taraf yang memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia terus turun dan kondisinya makin jelek," kata Imran ketika ditemui awak media di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa rasa syukur dan pengobatan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seseorang tetap bisa menghargai hal-hal baik dalam hidupnya sekaligus membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi masalah kesehatan mental.

Baca Juga: Kemenkes Ungkap Media Sosial Bisa Picu Kecemasan Anak Muda, Ini Penyebabnya

Dukungan Orang Terdekat Penting bagi Kesehatan Mental

Kondisi emosi seseorang dapat mengalami perubahan. Ketika orang terdekat terlihat terpuruk atau mengungkapkan kesulitan emosional, keluarga dan teman dapat membantu dengan memberikan ruang aman untuk bercerita.

Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

Baca Juga: Kerja Seharian Cuma Duduk di Depan Laptop, Berapa Kebutuhan Kalori Harian?

Dukungan sosial bukan pengganti penanganan medis, tetapi dapat membantu seseorang merasa tidak menghadapi masalahnya sendirian.

Kapan Seseorang Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Imran mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda ketika kondisi emosional mulai membutuhkan perhatian lebih lanjut. Skrining kesehatan mental dapat menjadi langkah awal untuk membantu seseorang memahami kondisinya, meskipun hasil skrining bukan diagnosis akhir.

"Kita nggak boleh lama-lama di situ (perasaan down). Kalau melihat aku perlu bantuan, maka kita harus cari bantuan. Skrining itu membantu kita untuk mengetahui, mungkin kita baik-baik saja, ternyata setelah dicek, kok mulai tanda bahaya ini. Nah, jadi dia harus segera akses suatu line kesehatan," ujar Imran.

Ia menekankan bahwa pertolongan sejak dini dapat membantu mencegah kondisi seseorang semakin memburuk.

Baca Juga: Apel vs Pisang untuk Diet, Mana yang Lebih Ampuh Menurunkan Berat Badan?

"Kalau seawal mungkin kita sudah mendapatkan pertolongan, itu tidak tidak jatuh terus ke bawah," tandasnya.

Jika perasaan sedih, kehilangan minat, kecemasan, atau perubahan suasana hati berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.

Baca Juga: Studi Ungkap Cara Otak Menyimpan Ingatan Lama Sambil Merekam Informasi Baru

Editor : Ubaidillah
kurang bersyukur dukungan emosional validasi perasaan depresi kesehatan mental