Bukan Cuma Paru-paru, Asap Karhutla Berisiko Ganggu Otak dan Mental Anak

Ubaidillah • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 06:08 WIB
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI

 

RadarBangkalan.id - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak pada kesehatan saluran pernapasan anak. Dalam jangka panjang, paparan polusi dari asap kebakaran juga dikaitkan dengan risiko gangguan kardiovaskular, penurunan kemampuan kognitif, hingga masalah kesehatan mental.

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K), menjelaskan bahwa paparan asap karhutla secara berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang dampaknya berlanjut hingga anak dewasa.

Baca Juga: 1 Kg Maggot Bisa Olah 5-10 Kg Sampah Sehari, Begini Cara Kerjanya

 

Asap Karhutla Berisiko Mengganggu Kesehatan Paru-paru

Menurut dr Fifi, anak yang terus-menerus menghirup udara tercemar asap karhutla berisiko mengalami gangguan pernapasan dalam jangka panjang. Paparan polutan juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular atau jantung dan pembuluh darah.

Selain itu, paparan partikel dan bahan kimia dari asap kebakaran juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko penyakit serius.

"Ke depannya karena partikel bahan kimia dan sebagainya, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker paru," kata dr Fifi dalam acara temu media IDAI, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga: NASA Petakan Polusi Karbon Monoksida di Langit Indonesia, Ini Gejala Keracunannya

Risiko kesehatan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk konsentrasi polutan, durasi paparan, serta kondisi kesehatan anak. Karena itu, paparan asap karhutla perlu dikurangi, terutama pada anak-anak yang lebih rentan terhadap pencemaran udara.

Baca Juga: Pertalite Langka di Surabaya, Blitar, Malang, dan Jember, Pertamina Ungkap Penyebabnya

Paparan Asap Dikaitkan dengan Penurunan Kemampuan Kognitif

Dampak asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan organ pernapasan. Dr Fifi juga menyoroti sejumlah penelitian yang menemukan hubungan antara paparan polusi udara dan penurunan kemampuan intelektual atau kognitif anak.

Paparan polutan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memengaruhi kemampuan belajar dan performa akademik. Penurunan kemampuan tersebut berpotensi membawa konsekuensi hingga anak memasuki usia dewasa.

"Artinya ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa," sambungnya.

Meski demikian, dampak terhadap kecerdasan dan prestasi akademik tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan paparan asap. Perkembangan anak juga dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi kesehatan, lingkungan keluarga, pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi.

Dampak terhadap Kesehatan Mental Juga Perlu Diantisipasi

Selain kesehatan fisik dan kemampuan kognitif, dr Fifi mengingatkan kemungkinan dampak terhadap kesehatan mental anak.

Baca Juga: Wanita Inggris Akui Berhubungan Seks dengan 100 Pria Beristri, Ini Alasannya

Pengalaman bencana karhutla, kondisi pengungsian, kehilangan tempat tinggal, serta gangguan aktivitas sehari-hari dapat menjadi sumber tekanan psikologis bagi anak. Dalam situasi tertentu, pengalaman traumatis dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Baca Juga: Modus Sopir Gadungan, Sindikat Gelapkan 185 Ton Gula Senilai Rp 3 Miliar

"Ini adalah kondisi-kondisi yang harus kita antisipasi agar nanti dampak ke depannya, jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi," tandasnya.

Karena itu, penanganan dampak karhutla perlu memperhatikan kesehatan anak secara menyeluruh, termasuk kondisi psikologis mereka selama dan setelah bencana.

Cara Mengurangi Risiko Paparan Asap Karhutla pada Anak

Untuk mengurangi risiko paparan asap, orang tua dan pengasuh dapat melakukan sejumlah langkah berikut:

Baca Juga: Karhutla Bromo Tewaskan 4 Relawan, 2 Korban Luka Bakar di Atas 50 Persen

Paparan asap karhutla perlu menjadi perhatian karena dampaknya berpotensi melampaui gangguan pernapasan yang terlihat dalam waktu dekat. Perlindungan sejak dini, pengurangan paparan, dan perhatian terhadap kesehatan fisik serta mental anak menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko jangka panjang.

Editor : Ubaidillah
kecerdasan anak asap karhutla gangguan pernapasan penyakit paru kesehatan anak