RadarBangkalan.id - Aviliani, seorang ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyatakan bahwa melaksanakan Pemilihan Presiden (Pilpres) dalam satu putaran dapat memberikan dampak positif terhadap laju investasi di Indonesia. Dalam pandangan Aviliani, sistem satu putaran Pilpres dapat meningkatkan kepastian dan kecepatan pengambilan keputusan investor, yang pada gilirannya dapat merangsang pertumbuhan investasi di tanah air.
Pemilihan Umum atau Pemilu 2024 dijadwalkan akan diselenggarakan secara serentak pada Rabu, 14 Februari 2024. Aviliani berpendapat bahwa setelah bulan Februari, realisasi investasi di Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan. Selama masa kampanye Pilpres, para investor umumnya bersikap wait and see, menunggu informasi lebih lanjut mengenai calon presiden dan kebijakan yang akan diterapkan. Dengan adanya satu putaran Pilpres, Aviliani optimis bahwa setelah bulan Februari, investor akan lebih percaya diri untuk melakukan investasi karena sudah ada kepastian mengenai kepemimpinan negara.
Sebaliknya, jika Pilpres diadakan dalam dua putaran, hal ini dapat menyebabkan penundaan keputusan investasi karena proses pemilihan yang lebih panjang. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap perekonomian, memperlambat pertumbuhan investasi, dan menciptakan ketidakpastian di kalangan investor. Aviliani menyoroti bahwa tahun pemilu, seperti 2024, memiliki potensi untuk tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya jika Pilpres diadakan dalam dua putaran.
Aviliani juga menekankan pentingnya stabilitas politik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Beliau mengingatkan para calon presiden dan calon wakil presiden untuk tidak menciptakan kegaduhan politik yang dapat mempengaruhi keputusan investor. Stabilitas politik yang terjaga diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan investor, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
INDEF, lembaga tempat Aviliani bernaung, berharap agar Pemilu dan Pilpres tahun depan dapat berlangsung dengan damai. Mereka menyoroti risiko bahwa jika investor menghindari Indonesia akibat ketidakpastian politik, hal tersebut dapat menyulitkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara dalam jangka panjang.
Sebelumnya, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen untuk tahun 2023. Namun, data dari kuartal III-2023 menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,94 persen. Riza Annisa Pujarama, peneliti Center of Macroeconomics and Finance, menjelaskan bahwa mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut memerlukan upaya lebih keras, mengingat adanya perlambatan konsumsi, penurunan tabungan, dan orientasi masyarakat yang lebih memilih membayar cicilan daripada melakukan konsumsi.
Dengan berbagai dinamika ekonomi dan politik yang berkaitan dengan Pemilu dan Pilpres, tantangan bagi pemerintah dan masyarakat adalah menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi dan memastikan stabilitas ekonomi. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat meraih pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mampu bersaing di tingkat global.