RadarBangkalan.id - Kepala Stasiun Meteorologi Fransiskus Xaverius Seda Sikka, Ota Thalo, menyampaikan bahwa sebaran abu vulkanik akibat letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki masih berada di ruang udara, menimbulkan potensi dampak serius terhadap keselamatan penerbangan. Pernyataan ini diungkapkan pada Rabu (3/1/2024), menjelaskan bahwa Bandara Maumere masih ditutup untuk sementara waktu sebagai langkah pencegahan.
Letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terjadi pada 1 Januari 2024 menyebabkan munculnya rekahan baru di arah timur laut, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas asap kawah yang semakin meluas. Situasi ini meningkatkan tingkat ancaman dan mengakibatkan penutupan penerbangan dari dan ke Bandara Frans Seda Maumere, Kabupaten Sikka, sejak tanggal 1 Januari 2023.
Baca Juga : Pengungsi Rohingya dibawa Pendemo! Suasana Menjadi Tegang dan Diwarnai Tangisan Pengungsi
Ota Thalo menjelaskan bahwa penutupan ini didasarkan pada informasi SIGMET (Significant Meteorological Information) yang mengindikasikan tingginya debu vulkanik dari permukaan hingga lapisan 9.000 kaki di udara. Selain itu, adanya penyebaran debu ke arah barat dengan kecepatan 10 knot dan intensitas tetap menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan tersebut.
Baca Juga : Netizen Kritik Spesifikasi iPad Sejutaaan Baim Wong yang Tak Jelas, Berikut Alternatif Tablet dengan Harga Serupa yang Lebih Berkualitas
"Kami mengimbau agar waspada terhadap penerbangan di area berwarna merah atau melihat lokasi penyebaran pada informasi SIGMET," ungkap Ota Thalo sebagai peringatan kepada pihak-pihak terkait.
Baca Juga : 27 Anggota Ditangkap Akibat Aksi Pengeroyokan Acak oleh Geng Motor Moonraker di Bandung Barat
Partahian Panjaitan, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Bandara Frans Seda Maumere, mengonfirmasi penutupan sementara layanan operasional penerbangan. Ia menegaskan bahwa penutupan ini diterapkan karena abu vulkanik dapat mengenai mesin pesawat, berpotensi menyebabkan kerusakan fatal dan membahayakan keselamatan penerbangan.
Keputusan penutupan juga merujuk pada hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan bahwa ruang udara Bandara Frans Seda Maumere masih terindikasi adanya abu vulkanik. "Penutupan tetap berlaku hingga pukul 17.00 Wita, dan kita akan segera melakukan evaluasi jika ada perubahan data dari BMKG," tambah Partahian, mengisyaratkan keterbukaan untuk melakukan peninjauan ulang jika situasi berubah.