RadarBangkalan.id - Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi, secara kritis mengamati pernyataan yang mencuat mengenai pembelian pesawat bekas dan pesawat rusak dalam debat ketiga Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung semalam.
Persoalan ini menjadi sorotan utama dalam debat dan menimbulkan berbagai pandangan kontroversial.
Salah satu narasi yang muncul adalah anggapan bahwa penggunaan pesawat bekas dapat membahayakan para prajurit saat mengoperasikan unit tersebut.
Teddy Gusnaidi menanggapi hal ini dengan mengklarifikasi bahwa pesawat bekas tidak selalu berarti pesawat rusak, dan memahami hal ini secara keliru dapat mengarah pada pemikiran yang menyesatkan.
"Diperlukan pemahaman bahwa pesawat bekas bukan berarti pesawat rusak. Oleh karena itu, jika ada pernyataan yang menyuarakan belas kasihan terhadap prajurit, kita perlu menyadari bahwa hal tersebut mungkin hanyalah upaya untuk memanipulasi opini publik," ungkap Teddy dalam keterangan tertulisnya pada Senin (8/1).
Menurut Teddy, istilah "kasihan terhadap prajurit" yang disampaikan oleh beberapa pihak dalam konteks pesawat bekas adalah suatu strategi yang dapat menyesatkan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa tidak mungkin prajurit akan menggunakan pesawat yang tidak layak terbang, dan demikian pula tidak mungkin ada keputusan pembelian pesawat yang tidak mempertimbangkan aspek keamanan dan kelayakan terbang.
"Janganlah kita menganggap enteng masalah ini. Sama seperti seseorang tidak akan membeli dan mengendarai mobil rusak, prajurit pun tidak akan menggunakan pesawat yang tidak layak terbang. Ini adalah fakta yang seharusnya menjadi landasan pembahasan dalam debat capres semalam," jelas Teddy.
Meskipun Teddy menyatakan keinginannya hanya untuk menyampaikan fakta-fakta tersebut, tanpa berniat merubah arah debat, ia juga memberikan perspektif bahwa penggunaan strategi negatif dalam sebuah debat merupakan hal yang sah.
Baginya, penilaian akhir tetap berada di tangan masyarakat, apakah mereka menganggap argumen tersebut layak atau tidak.
"Saya hanya ingin menyampaikan fakta, bukan mengubah arah debat. Strategi negatif dalam debat memang sah-sah saja. Mari kita biarkan masyarakat yang menilai, apakah argumen ini layak atau tidak," tambahnya.
Dengan demikian, pernyataan Teddy Gusnaidi memberikan sudut pandang yang lebih mendalam dan mendetail terkait isu alutsista bekas dan pesawat rusak dalam konteks debat capres. ***