RadarBangkalan.id - Google mengumumkan rencana restrukturisasi perusahaan pada Rabu (10/1) malam waktu setempat, menandai langkah signifikan dalam dinamika internal perusahaan teknologi tersebut.
Rencana ini mencakup pengurangan jumlah karyawan di divisi pengembangan teknologi perangkat keras (hardware), termasuk produk seperti smartphone Pixels, smartwatch Fitbit, dan perangkat pintar Nest.
Menurut laporan dari Reuters, ratusan karyawan yang terlibat dalam pengembangan produk hardware tersebut akan terkena dampak dari restrukturisasi ini.
Tak hanya itu, karyawan yang fokus pada pengembangan Google Assistant, program perintah suara andalan Google, juga akan terdampak.
Baca Juga : Jubir Timnas AMIN Ditahan Aparat Kejaksaan Jakarta Timur
Dalam upayanya untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran, Google berencana untuk menggabungkan pengembangan produk seperti Fitbit, Nest, dan Pixel ke dalam satu divisi.
Divisi ini akan berada di bawah pengawasan satu pemimpin, menciptakan model manajemen yang lebih terfokus.
Dampaknya, pendiri Fitbit, James Park, Eric Friedman, dan beberapa staf perusahaan tersebut terpaksa harus meninggalkan Google.
Baca Juga : KPU Merespons Somasi Roy Suryo Terkait Pernyataan KPU
Fitbit, yang diakuisisi oleh Google pada 2021, merupakan perusahaan pengembang produk wearable devices yang dikenal luas dalam industri kebugaran.
Langkah restrukturisasi ini menegaskan niat Google untuk menyatukan fokusnya pada pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada produk perintah suara milik mereka.
Baca Juga : Pesan Penting! Mahasiswa Se-Malang Raya Menyelenggarakan Mimbar Demokrasi
Sementara itu, para karyawan yang terlibat dalam pengembangan layanan Google Assistant juga akan mengalami perubahan signifikan.
Google mengindikasikan bahwa keputusan ini bertujuan untuk lebih memusatkan upaya pada pengembangan teknologi berbasis AI untuk memajukan kemampuan produk mereka.
Hal ini menjadi relevan mengingat pengenalan chatbot AI Bard beberapa waktu lalu, yang menjadi langkah inovatif bagi perusahaan.
Produk Google Assistant sendiri diperkenalkan pada tahun 2016 sebagai pesaing layanan perintah suara Siri milik Apple dan Alexa yang dikembangkan oleh Amazon.
Keputusan ini mencerminkan transformasi terus-menerus dalam industri teknologi, terutama dengan kehadiran inovasi seperti ChatGPT milik OpenAI yang membawa standar baru dalam pengembangan produk berbasis AI.
Baca Juga : KPU Merespons Somasi Roy Suryo Terkait Pernyataan KPU
Tidak hanya Google, perusahaan teknologi lainnya juga telah melakukan tindakan serupa.
Pada awal Januari 2023, induk usaha Google, Alphabet, melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 12 ribu karyawannya.
CEO Alphabet, Sundar Pichai, menyampaikan bahwa langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap perubahan ekonomi pasca pandemi Covid-19.
Sebagai tambahan, Amazon juga telah mengumumkan pemangkasan jumlah karyawan pada Rabu (10/1), dengan merumahkan ratusan karyawan di unit bisnis berbeda, termasuk layanan streaming video Twitch, Prime Video, dan studio film Amazon MGM Studios.
Sementara itu, perusahaan teknologi lain seperti Xerox juga telah mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 15 persen karyawannya pada awal Januari 2024 sebagai bagian dari langkah awal pengembangan struktur organisasi dan perubahan model bisnis mereka.
Keputusan Google untuk merumahkan karyawan dan melakukan restrukturisasi menunjukkan dinamika perubahan yang terus-menerus di dunia teknologi.
Hal ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi perusahaan-perusahaan besar dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi dan teknologi global. ***