Radarbangkalan.id - Direktur Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, telah mengungkapkan berbagai faktor yang menyebabkan kenaikan harga beras pada bulan Januari ini.
Menurutnya, lonjakan harga beras disebabkan oleh faktor keterlambatan masa tanam petani yang berdampak langsung pada panen dan produksi beras.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari-Februari 2024 menunjukkan bahwa Indonesia diperkirakan akan mengalami defisit beras sebesar 2,7 juta ton.
Bayu juga menjelaskan bahwa kenaikan harga beras dipicu oleh tingginya harga pupuk.
Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu konflik Rusia-Ukraina dan terganggunya rantai pasok di Laut Merah.
"Situasi ini memaksa transportasi di Laut Merah harus berputar melalui Afrika Selatan.
Sebelumnya, rutenya lebih dekat melalui Terusan Suez, tetapi sekarang menjadi lebih panjang, menambah waktu dan biaya.
Ini juga mendorong kenaikan harga," jelasnya.
Baca Juga : Aba Idi Pamit dari Bupati Sampang kepada Masyarakat, Fokus Bangun Daerah dan Tak Ingin Sampang Dipimpin Serakah
Untuk mengatasi kenaikan harga beras, Bayu menyatakan bahwa Perum Bulog akan segera mendistribusikan beras Stabilitas Pasokan dan Harga Beras (SPHP) serta bantuan pangan berupa beras 10 kilogram kepada 21 juta keluarga penerima manfaat (KPM), setara dengan 210.000 ton per bulan.
Dengan demikian, dampak kenaikan harga beras di masyarakat dapat dikurangi.
Baca Juga : Disunat Vendor dan Gruduk KPU Sleman, Anggaran Snack Pelantikan KKPS Sleman Cuman Segini
"Bantuan pangan dan SPHP Bulog harus terus dilaksanakan, paling tidak masyarakat memiliki alternatif untuk mengurangi tekanan dari kenaikan harga," tambahnya.
Menurut data dari website resmi panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras eceran di DKI Jakarta pada Senin (29/1) melonjak menjadi Rp 15.560 per kilogram untuk beras premium, meningkat dari Rp 14.900 per kilogram pada akhir tahun 2013.