RadarBangkalan.id - Baru-baru ini, media sosial Indonesia telah menjadi saksi gelombang perbincangan yang dipicu oleh kehadiran sebuah film dokumenter berjudul Dirty Vote.
Kehadiran film ini tidak hanya sekadar menjadi topik pembicaraan di ranah maya, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan dan kontroversi terkait dugaan kecurangan yang terjadi dalam Pemilu 2024.
Salah satu fokus utama film dokumenter ini adalah analisis mendalam terhadap potensi kecurangan yang dilakukan oleh pasangan calon nomor urut dua, yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Film dokumenter Dirty Vote telah menjadi sorotan utama di kalangan warganet. Bahkan, sejak dirilis pada Minggu (11/2) lalu, topik pembicaraan terkait film ini menjadi yang paling populer di platform media sosial seperti X/Twitter.
Dalam film tersebut, disajikan analisis yang mengungkapkan dugaan instrumen kekuasaan yang diduga digunakan oleh pasangan Prabowo-Gibran, dan diyakini oleh sebagian pihak merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta sejumlah pembantunya dalam pemerintahan.
Tak hanya itu, film dokumenter ini juga menampilkan pandangan dari tiga ahli hukum tata negara terkemuka, yaitu Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.
Penyajian informasi melalui film ini tidak hanya berdampak di media sosial, tetapi juga di platform berbagi video seperti YouTube.
Film dokumenter Dirty Vote diunggah oleh akun resmi Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia, dan telah ditonton jutaan kali oleh pengguna YouTube.
Namun, fenomena menarik muncul ketika ditemukan bahwa film tersebut telah menginspirasi pembuatan konten yang mirip oleh beberapa akun YouTube lainnya.
Bahkan, beberapa akun tersebut bahkan mencoba meniru nama "Dirty Vote" dan menggunakan gambaran yang serupa dengan yang terdapat dalam film dokumenter tersebut, seperti papan catur dan bidak-bidaknya.
Tidak kurang dari 13 akun tiruan telah muncul dengan nama yang mirip atau meniru identitas film Dirty Vote.
Di sisi lain, akun resmi Dirty Vote, yang kemungkinan besar merupakan akun asli, juga mencatat angka penonton yang signifikan, dengan lebih dari 4,7 juta penonton.
Akun ini, dengan hampir 97 ribu subscriber, telah memperlihatkan dua video baru yang diunggah setelah tanggal 9 Februari.
Meskipun demikian, akun-akun lain yang menampilkan nama seperti "Vote Dirty" atau "Film Dirty Vote" hanya memiliki jumlah subscriber yang jauh lebih sedikit.
Dengan banyaknya akun tiruan yang muncul, masyarakat internet pun mulai mempertanyakan keaslian konten asli film Dirty Vote.
Beberapa bahkan bertanya-tanya apakah konten asli film tersebut masih dapat diakses atau sudah dihapus.
Komentar dan keluhan seputar kesulitan menemukan konten asli juga mulai muncul di berbagai platform, seperti yang ditunjukkan oleh salah satu pengguna yang menyebutkan kesulitan dalam menemukan film tersebut di mesin pencarian YouTube.
Perlu dicatat bahwa Dirty Vote merupakan hasil karya dari Dandhy Dwi Laksono, seorang pembuat film dokumenter yang telah dikenal melalui karyanya sebelumnya, seperti Sexy Killers, Pulau Plastik, dan Barang Panas.
Film ini membawa ulasan tentang berbagai dugaan kecurangan yang terjadi selama masa kampanye, disampaikan melalui perspektif netral oleh tiga ahli hukum tata negara yang terlibat.
Kehadiran film dokumenter Dirty Vote telah menimbulkan diskusi yang luas di berbagai lapisan masyarakat, dari media sosial hingga platform berbagi video.
Dengan fenomena tiru nama yang muncul di YouTube, hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh dan relevansi film tersebut dalam membuka ruang diskusi publik terkait demokrasi dan proses pemilu di Indonesia. ***
Editor : Azril Arham