Radarbangkalan.id - Kecemasan akan kualitas pelaksanaan Pemilu 2024 mendorong bangkitnya gerakan pengawasan demokrasi.
Tiga organisasi, yakni JagaSuara, Jaga Pemilu, dan Kawal Pemilu, telah sepakat untuk bekerja sama dalam mengawasi proses tersebut.
Mereka membagikan data berupa foto formulir C hasil dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang akan digunakan untuk perhitungan suara independen.
Masyarakat diundang untuk berpartisipasi dengan mengunggah foto-foto tersebut ke salah satu platform yang disediakan.
Elina Ciptadi, salah satu pendiri kawalpemilu.org, menyatakan bahwa sebulan sebelumnya dia meragukan keberadaan Kawal Pemilu dalam Pemilu 2024.
Terdapat dua faktor penting yang membuat semua pihak yang terlibat dalam gerakan ini yakin bahwa kehadiran platform pengawasan ini diperlukan kembali.
Pertama, belum pastinya apakah Pemilu 2024 akan berlangsung dalam satu putaran atau dua putaran.
Diperkirakan bahwa hasil dari beberapa survei dan jajak pendapat mendekati 50 persen, menunjukkan kemungkinan adanya kedua skenario tersebut.
Dengan situasi yang tidak pasti ini, dikhawatirkan bahwa hasil dari putaran kedua pemilu akan sangat tipis, sehingga pengawasan tetap dibutuhkan.
Baca Juga : Berani Memerangi Kecurangan Pemilu 2024 Melalui Film Dirty Vote, Ini Profil Bivitri Susanti Srikandi Hukum Tata Negara Indonesia
Alasan kedua yang menjadi dorongan bagi keaktifan kembali Kawal Pemilu adalah perubahan teknologi dalam pelaporan hasil pemilu.
Meskipun Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan bahwa foto formulir C hasil akan tetap dipublikasikan, namun dengan adanya sistem Sirekap, data tersebut akan disajikan dalam bentuk diagram, bukan lagi dalam bentuk foto.
Meskipun demikian, KPU mengklarifikasi bahwa foto C hasil tetap akan tersedia melalui situs resmi mereka.
Hal ini memperkuat alasan bagi Kawal Pemilu untuk tetap aktif.
Baca Juga : Jelang Pemungutan Suara Pemilu 2024, Bawaslu Ungkap Kekhawatiran Potensi Konflik Baru dari Film Dirty Vote
Elina Ciptadi mengajak semua warga yang peduli untuk menggunakan platform kawalpemilu.org dalam mengawasi suara mereka.
Prosesnya cepat dan mudah, hanya memerlukan ponsel dan waktu sekitar 10 hingga 20 detik untuk memfoto formulir C hasil dan mengunggahnya.
Baca Juga : Masa Tenang Pemilu 2024, Satpol PP Surabaya Gandeng Bawaslu dan KPU untuk Penertiban APK
Di sisi lain, gerakan Jaga Pemilu yang dideklarasikan pada November 2023 juga menarik perhatian.
Di balik gerakan ini terdapat beberapa tokoh seperti mantan Komisioner KPK Erry Riyana Hardjapamekas, mantan Wakil Koordinator BP ICW Luky Djani, dan Guru Besar Antropologi Hukum UI Prof Sulistyowati Irianto.
Luky Djani, Sekretaris Komite Eksekutif Gerakan Jaga Pemilu, menjelaskan bahwa gerakan ini lahir dari berbagai diskusi informal, forum-forum daring, dan pertemuan terbatas yang merasakan gejala kemunduran demokrasi.
Dari kalangan mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) juga turut mendukung gerakan pengawasan ini dengan membuka wadah bagi masyarakat agar dapat ikut serta dalam mengawal jalannya Pemilu 2024.
Semua pihak, baik dari kalangan organisasi masyarakat sipil maupun akademisi, sepakat bahwa pengawasan yang ketat diperlukan untuk mencegah potensi kecurangan dalam proses demokrasi tersebut. ***