RadarBangkalan.id - Pada awalnya, keberhasilan sementara Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo-Gibran, membawa kegembiraan di tengah masyarakat.
Dengan dukungan mencapai 56.85 persen, harapan besar terbentang menuju kemenangan dalam satu putaran di Pemilihan Presiden 2024.
Namun, optimisme ini kini terkikis oleh realitas pahit bahwa janji makan siang gratis dan susu bagi warga Indonesia dari pasangan tersebut tampaknya hanya menjadi angan-angan.
Tantangan implementasi mengemuka, dan harapan masyarakat diprediksi terkatung-katung, harus menunggu hingga 4 tahun ke depan untuk benar-benar menikmati manfaat program tersebut.
Program kesejahteraan yang diusung, mencakup makan siang dan susu gratis, seakan menjadi magnet selama kampanye Pilpres 2024.
Namun, proyeksi implementasi menunjukkan target 82,9 juta warga baru bisa mencicipi manfaatnya pada tahun 2029, mendekati Pemilu 2029.
Budisatrio Djiwandono, juru bicara Tim Komunikasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
memberikan penjelasan realistis bahwa mencapai target sebesar itu membutuhkan waktu yang panjang.
"Dalam perhitungan kami, target penerima manfaat program ini baru bisa tercapai pada tahun 2029.
Kami memiliki jangka waktu yang cukup untuk menyusun anggaran yang diperlukan, baik melalui efisiensi, peningkatan penerimaan anggaran, atau sumber dana lainnya," ungkapnya pada Jumat, 16 Februari 2024.
Budi menambahkan bahwa jika Prabowo-Gibran terpilih, alokasi anggaran dalam jumlah besar tidak bisa dilakukan pada tahun pertama pemerintahannya.
Program tersebut akan diimplementasikan secara bertahap, dengan memprioritaskan skala prioritas tanpa mengganggu program-program lain seperti BPJS dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang telah berjalan.
Sebelumnya, dalam kampanye terakhir di GBK, Prabowo Subianto menegaskan komitmen terhadap program makan siang gratis dan pemberian susu kepada warga.
"Menteri yang masuk kabinet saya harus setuju dengan program makan siang gratis. Anak-anak harus diberi makan siang," tegasnya.
Meski makan siang gratis dan pemberian susu kepada warga menjadi prioritas utama visi transformasi kesejahteraan Prabowo-Gibran jika terpilih pada Pilpres 2024, kekhawatiran masyarakat muncul terkait keterlambatan implementasi.
Dengan kata lain, impian kesejahteraan masyarakat seakan-akan diundur hingga waktu yang tidak pasti.
Oleh karena itu, pentingnya kerjasama dengan menteri dan seluruh pihak untuk memastikan program ini dapat berjalan dengan baik di seluruh wilayah Indonesia menjadi fokus perhatian.
"Kalau tak setuju, tidak usah gabung di kabinet Prabowo Subianto," kata mereka, mencuatkan keraguan akan kesungguhan dan kemampuan untuk mewujudkan janji kampanye tersebut.
Sementara masyarakat menantikan implementasi, harapannya kini tergantung pada kemampuan Prabowo-Gibran dalam mengelola dan merealisasikan program kesejahteraan yang dijanjikan.
Kritik dan kekecewaan meluap dari berbagai pihak yang merasa janji-janji kampanye hanya sebatas slogan tanpa jaminan realisasi dalam waktu yang bisa diukur. ***
Editor : Raditya Mubdi