Radarbangkalan.id - Pengamat Strategi Manajemen Abdullah Sammy menjelaskan bahwa kesuksesan suara Prabowo dan Gibran dalam pemilihan tersebut tidaklah terjadi secara kebetulan.
Salah satu faktor kunci yang telah diidentifikasi adalah strategi mereka dalam menarik perhatian anak muda, yang pada gilirannya membawa kemenangan bagi pasangan tersebut, sementara kompetitor mereka mengalami penurunan suara.
Menurut Abdullah Sammy, Prabowo dan Gibran telah mengambil langkah luar biasa dengan membentuk divisi Fanta, yang secara efektif menjadi klaster TKN (Tim Kampanye Nasional) untuk pemilih muda.
Divisi TKN ini, yang dikenal sebagai TKN Fanta atau TKN Pemilih Muda, telah menjadi pusat dalam merencanakan dan melaksanakan semua agenda dan kegiatan yang berkaitan dengan kampanye pasangan calon nomor urut 02.
Terutama dalam upaya mereka untuk menyosialisasikan visi dan misi kepada kalangan anak muda.
Baca Juga: Berpotensi Saingi Titkok, Youtube Kini Hadirkan FItur Baru Untuk Konten Shorts
Lebih lanjut, Abdullah Sammy menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama dari TKN Fanta adalah komposisi anggotanya yang terdiri dari individu-individu muda yang berusia antara 17 hingga 30-an tahun.
Hal ini memberikan perspektif yang sangat berbeda dalam merancang strategi pemasaran dan komunikasi, yang ternyata menjadi kunci kedua di balik kesuksesan Prabowo-Gibran.
Dalam dunia politik, memiliki desain yang baik, brand yang kuat, dan produk yang unik tidaklah cukup jika tidak didukung oleh pemasaran yang efektif.
Baca Juga: Hasil Real Count KPU: Prabowo-Gibran Unggul di NTB Dari Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud
"TKN Pemilih Muda Prabowo dan Gibran atau TKN Fanta telah menjalankan fungsi pemasaran dengan sangat baik," ungkap Abdullah Sammy.
Mereka telah memanfaatkan media digital secara maksimal sebagai sarana untuk menyebarkan ide dan kegiatan pasangan calon, dengan menekankan budaya pop yang sedang tren di kalangan anak muda.
Abdullah Sammy juga menyoroti pendekatan yang digunakan oleh TKN Pemilih Muda dalam memasarkan politik kepada generasi muda.
Mereka berhasil menciptakan narasi politik yang menghibur dan mengasyikkan bagi anak muda, seperti melalui debat yang diselenggarakan dengan spontanitas dan keunikan yang menarik.
Inovasi-inovasi seperti tren joget gemoy, narasi sorry ye, dan Omon-Omon menjadi bagian dari strategi pemasaran yang berhasil menjangkau dan mempengaruhi kalangan anak muda.
"Inilah salah satu kunci yang menciptakan tren di kalangan anak muda.
Muncullah tren joget gemoy, narasi sorry ye, hingga Omon-Omon.
Baca Juga: Perhitungan Real Count KPU: Ganjar-Mahfud Unggul di TPSLN Den Haag, Belanda
Pendekatan politik yang heboh, seru, dan asyik akhirnya menciptakan FOMO alias fear of missing out di kalangan anak muda," jelas Abdullah Sammy.
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa anak muda merasakan bahwa mendukung pasangan Prabowo-Gibran merupakan bagian dari tren yang sedang berkembang.
Para pemilih muda tidak ingin ketinggalan dalam merasakan sensasi dan keasyikan yang ditawarkan oleh kampanye tersebut. ***