Harga Beras Melambung Tinggi, Pedagang Nasi di Jakbar Ikut Prihatin
Azril Arham• Kamis, 22 Februari 2024 | 05:41 WIB
Ilustrasi Harga Beras Naik
RadarBangkalan.id - Kenaikan harga pangan baru-baru ini telah menciptakan gelombang kekhawatiran di kalangan pedagang nasi, termasuk di antaranya adalah Tuti, seorang pedagang nasi di Palmerah, Jakarta Barat.
Menurut Tuti, kenaikan harga pangan telah memberikan beban yang sangat berat bagi pedagang kecil seperti dirinya.
Dia menyatakan keprihatinannya, menggambarkan bagaimana harga beras yang kini mencapai Rp12.500 per liter, naik dari harga sebelumnya hanya Rp10 ribu.
Namun demikian, Tuti mengungkapkan bahwa dia tidak menaikkan harga jual nasi meskipun terjadi kenaikan harga bahan baku.
Alasannya sederhana: dia khawatir akan kehilangan pelanggan.
"Tidak menaikkan harga jual, kata Tuti, karena dikhawatirkan para pelanggannya akan kabur," ucapnya dengan nada prihatin.
Selain kenaikan harga beras, Tuti juga menyoroti kenaikan harga bahan pangan lainnya, seperti telur dan cabai.
Dia menjelaskan bahwa harga telur yang sebelumnya Rp27 ribu per kilogram, kini telah mencapai Rp30 ribu.
“Telur, cabai juga naik. Telur sekarang udah Rp30 ribu. Padahal kemarin masih di Rp27 ribu,” ungkapnya.
Dalam menghadapi situasi ini, Tuti berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga bahan pangan.
Ini bukan hanya demi keberlangsungan usahanya, tetapi juga untuk meringankan beban para pembeli, yang kebanyakan adalah orang kecil.
“Maunya semua murah dan terjangkau karena kan pembeli saya kan juga orang kecil. Kasihan mereka kalau harga-harga pada mahal,” tandasnya dengan nada harap.
Dengan mempertimbangkan kenaikan harga beras, telur, cabai, dan bahan pangan lainnya, tampaknya ada kebutuhan mendesak bagi langkah-langkah kebijakan yang efektif untuk menjaga stabilitas harga pangan dan mendukung para pelaku usaha kecil seperti Tuti di sektor ini.