Radarbangkalan.id - Kata "Sapi Betina" kami ambil dari nama surat dalam Al-Quran, yaitu "Al-Baqarah". Ini merujuk pada tema utama yang ada dalam juz tersebut, sehingga menjadi judul surat.
Surat Al-Baqarah adalah salah satu surat penting dalam Al-Quran, ia seperti awan yang melindungi dari teriknya matahari.
Secara ajaib, surat Al-Baqarah menjadi bukti bahwa tidak ada yang mampu menyajikan surat lain yang bisa menyaingi Al-Quran, bahkan dengan menggunakan nama binatang lain.
Tantangan itu sudah berlalu 14 ribu tahun, namun belum ada yang mampu menghasilkan satu surat pun dengan kualitas yang sama.
Secara pribadi, studi kami tentang surat Al-Baqarah ini belum selesai hingga beberapa tahun terakhir.
Salah satu alasannya adalah kompleksitas surat ini dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yang mencakup tata cara formal kehidupan manusia di dunia.
Surat Al-Baqarah membahas banyak dimensi manusia secara psikologis dan sejarah, termasuk ideologi dan tantangan budaya sejak zaman kenabian Ibrahim khususnya.
"Sapi Betina" atau Al-Baqarah merupakan bagian dari tema-tema Al-Quran dalam membentuk kesadaran para pendengarnya (Ayat 67-70),
terutama sebagai pengingat bagi Bani Israil (sebagian di antaranya menjadi agama Yahudi dan Nasrani).
Dikisahkan bahwa sebagian ahli kitab Yahudi selalu kagum kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau mengetahui silsilah, sejarah, dan karakter mereka, yang disampaikan melalui wahyu Al-Quran.
Dalam konteks Kisah Sapi Betina ini, kita akan uraikan secara ringkas tentang "Rahasia" tadabbur-nya, sebagai berikut:
1. Materialisme
Paham materialisme ini sangat tertanam dalam pikiran sadar Bani Israil, yaitu mengorientasikan hidup mereka berdasarkan pada materi (mungkin karena mereka telah menjadi bangsa budak atau belum merdeka).
Mentalitas materialisme ini sangat kuat dalam kehidupan Bani Israil (Yahudi). Bahkan mereka menginginkan tuhan yang bisa dilihat (terkait dengan kisah Samiri).
Meskipun sebagian dari mereka telah mendapat azab karena permintaan tersebut (dengan disambar petir), namun benih materialisme masih tetap kuat dalam pikiran mereka, dengan simbolisasi sapi betina tadi.
Kemudian paham materialisme ini terus berlanjut hingga ke zaman modern, menjadi pintu masuk bagi sekularisme dan nihilisme pasca-modern.
Sehingga perintah untuk menyembelih sapi betina tersebut bukan hanya sebagai solusi bagi peristiwa antar Bani Israil (Yahudi), tetapi juga sebagai upaya untuk membersihkan keimanan dan keyakinan mereka terhadap perintah-perintah (yang selalu mereka tolak).
Sejauh ini, mereka masih mengklaim bahwa Tuhan Musa belum menjadi Tuhan mereka. Mereka selalu berkata, "Katakanlah kepada Tuhanmu, wahai Musa," atau, "Mintalah kepada Tuhanmu."
Yang menarik, kelanjutan ayat terkait penyembelihan ini diakhiri dengan kalimat "Agar kamu memikirkan."
2. Gambaran Kebangkitan setelah Kematian
Hal ini diceritakan dalam ayat 72-73. Kisah tentang pembunuhan salah satu dari Bani Israil, yang kemudian mereka saling menyalahkan siapa pelakunya.
Maka turunlah perintah untuk menyembelih sapi betina. Kemudian sebagian tubuh sapi itu dipukulkan ke mayat,
dan tiba-tiba mayat itu hidup kembali dan menyebutkan siapa yang telah membunuhnya. Allah SWT dengan sengaja menunjukkan hal ini sebagai tanda kekuasaan-Nya tentang hari kebangkitan (akhir ayat 73).
3. Sikap Keras Kepala
Kisah sapi betina ini ditutup dan dihubungkan dengan sikap keras kepala dan hati yang keras seperti batu (bahkan lebih buruk dari batu) yang dimiliki oleh Bani Israil, karena mereka berpikir bahwa Allah SWT tidak mengetahui apa yang mereka lakukan.
Hingga akhir ayat ke 82, banyak celaan Allah SWT terhadap mereka, meskipun Allah masih memberikan nikmat dan kelebihan kepada mereka sebelumnya (ayat 40-66).
Namun Allah masih sayang dan memberikan janji-Nya (ayat 83-84) kepada Bani Israil, untuk menyembah Allah,
Baca Juga: Solo Leveling Episode 10: Link Nonton Sub title Indo, Jadwal Rilis dan Pratinjau Spoiler di Sini
berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada keluarga, tetangga, anak yatim, orang miskin, dan selalu mengucapkan kata-kata yang baik.
Juga perintah untuk shalat dan zakat, namun kecuali sedikit dari mereka yang taat.
Terkait dengan serangkaian peristiwa Bani Israil ini, termasuk penolakan mereka terhadap ajaran Nabi Ibrahim dan Musa, pada ayat 134, Allah berfirman:
"Itulah umat yang telah bertindak sesuai dengan usaha mereka, dan bagi kalian (umat Nabi Muhammad SAW) adalah apa yang kalian usahakan. Kalian tidak akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan dahulu."
Demikian beberapa petikan utama tentang potongan kisah sapi betina dalam surat Al-Baqarah. Semoga bermanfaat. Wallahu A'lam.
Oleh: Taufik Sentana
Peminat Studi Tadabbur Al-Quran. Untuk Persiapan Buku "Hidangan Maha Rahman"
*Telah dikonsultasikan dengan H. Tabsyir Masykar Lc, MA, kandidat doktor Tafsir, dosen tetap STAIN Dirundeng Meulaboh.