RadarBangkalan.id - Pada Senin malam (26/8/2024) pukul 19.57 WIB, gempa tektonik mengguncang Samudra Hindia, tepatnya di selatan Gunungkidul.
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, gempa ini memiliki magnitudo M5,5 dengan episenter di laut sekitar 107 kilometer barat daya Gunungkidul dan kedalaman 42 kilometer.
Daryono menjelaskan bahwa gempa ini tergolong dangkal dan terjadi akibat deformasi batuan pada bidang kontak antarlempeng, atau yang dikenal dengan megathrust.
"Dari lokasi episenter dan kedalaman gempa ini, bisa disimpulkan bahwa gempa selatan Gunungkidul adalah gempa dangkal akibat deformasi batuan pada bidang kontak antarlempeng," ujar Daryono melalui akun X-nya, seperti dikutip pada Kamis (29/8/2024).
Menurutnya, analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme naik atau thrust.
Daryono juga menambahkan bahwa gempa M5,5 di Gunungkidul ini tidak berpotensi menyebabkan tsunami.
Hingga pukul 20.45 WIB, BMKG mencatat 11 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar M4,0 dan terkecil M2,6.
Apa Itu Megathrust?
Berdasarkan informasi dari BMKG, megathrust adalah zona subduksi atau pertemuan antarlempeng benua yang sangat luas dan memanjang.
Zona ini merupakan bagian dangkal dari jalur subduksi dengan sudut kemiringan yang landai.
Istilah "megathrust" merujuk pada jalur subduksi yang panjang namun relatif dangkal. "Mega" berarti besar dan "thrust" berarti dorongan.
Zona megathrust adalah tempat terjadinya tumbukan lempeng bumi pada kedalaman dangkal, yang terbagi menjadi segmen-segmen aktif.
Ketika segmen-segmen ini bergerak, bisa memicu terjadinya gempa bumi megathrust.
Zona Megathrust di Indonesia
Indonesia memiliki beberapa zona megathrust di sepanjang jalur subduksi aktifnya, antara lain:
- Megathrust Aceh-Andaman (M 9,2)
- Megathrust Nias-Simeulue (M 8,9)
- Megathrust Batu (M 8,2)
- Megathrust Mentawai-Siberut (M 8,7)
- Megathrust Mentawai-Pagai (M 8,9)
- Megathrust Enggano (M 8,8)
- Megathrust Selat Sunda-Banten (M 8,8)
- Megathrust Jawa Barat (M 8,8)
- Megathrust Jawa Tengah-Jawa Timur (M 8,9)
- Megathrust Bali (M 9,0)
- Megathrust NTB (M 8,9)
- Megathrust NTT (M 8,7)
- Megathrust Laut Banda Selatan (M 7,4)
- Megathrust Laut Banda Utara (M 7,9)
- Megathrust Utara Sulawesi (M 8,5)
- Megathrust Lempeng Laut Filipina (M 8,2)
Itulah penjelasan dari BMKG mengenai gempa di Gunungkidul dan informasi tentang megathrust. Semoga bermanfaat untuk memahami lebih dalam tentang fenomena gempa bumi ini.