RadarBangkalan.id - Pemkot Surabaya sedang merencanakan pembangunan transportasi massal berupa Autonomous Rail Rapid Transit (ART) yang didanai melalui APBD.
Namun, rencana ini mendapat tanggapan kritis dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).
"Kajiannya sudah dilakukan tahun 2022, tapi kalau dilihat dari kondisi sosial budaya sekarang, transportasi ini lebih cocok untuk Ibu Kota Negara (IKN) saja. Selain biayanya mahal, perilaku masyarakat belum mendukung," kata Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Bidang Penguatan dan Pengembangan Kewilayahan MTI dilansir dari detikJatim, Kamis (12/9/2024).
Menurut Djoko, ada beberapa masalah di Surabaya dan kota besar lainnya yang bisa membuat teknologi autonomus ini kurang efektif.
Salah satunya adalah sulitnya menertibkan kendaraan bermotor yang sering melanggar rambu lalu lintas.
“Selain IKN, jangan dulu. Di Solo saja, jalur relnya masih sering dilanggar," tambahnya.
Selain itu, ada juga masalah konektivitas antar-angkutan umum. Untuk mendukung operasional autonomus, masih diperlukan angkutan penunjang seperti feeder atau bus.
“Waktu tunggu antar angkutan umum perlu diperbaiki, idealnya di perkotaan itu 10-15 menit. Akses ke perumahan juga penting, pastikan ada halte setiap 500 meter agar lebih mudah dijangkau," jelas Djoko.
Djoko menyarankan agar Surabaya lebih dulu fokus pada transportasi umum lain yang lebih sesuai, seperti bus gandeng yang sudah terbukti efektif di Jakarta.
"Bus gandeng itu lebih tepat di Surabaya. Lebih cepat, teknologinya sederhana, dan biaya pemeliharaannya lebih murah. Jangan buru-buru dengan autonomus, perbanyak dulu busnya," tutup Djoko.
Sebelumnya, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyebutkan bahwa pembangunan ART ini sesuai dengan arahan Presiden Jokowi.
Selain ART, juga direncanakan pembangunan Surabaya Regional Railway Line (SRRL), atau kereta penghubung Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, yang ditargetkan beroperasi pada 2029 dengan dana APBN.
“Kami menggunakan ART, ditunjang SRRL menghubungkan Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Kami juga ajukan dengan feeder. Nanti kami itung lagi feeder, kami kembalikan masuk lagi ke perkampungan bisa ngangkat ke pusatnya, bisa naik Bus Semanggi atau Bus Suroboyo lalu menuju ART," ungkap Eri. ***