News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Terungkap! Grup Telegram dengan 70 Ribu Anggota Sebarkan Tutorial Mesum, Apa yang Terjadi di Baliknya?

Azril Arham • Senin, 13 Januari 2025 | 05:34 WIB
Ilustrasi Telegram
Ilustrasi Telegram

RadarBangkalan.id - Belum lama ini, sebuah investigasi mengejutkan mengungkapkan temuan yang sangat mengkhawatirkan yaitu grup di platform Telegram.

Grup Telegram yang beranggotakan lebih dari 70 ribu pria dari berbagai belahan dunia ternyata dipenuhi dengan konten seksual yang sangat mengganggu.

Di dalam grup ini, para anggotanya berbagi informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seks, bahkan tak segan untuk memberikan tutorial yang sangat tidak etis dan berbagi video rekaman seks.

Dilansir dari International Business Times, Minggu (12/1/2025), investigasi yang dipimpin oleh ARD, jaringan penyiaran terbesar di Jerman, mengungkapkan bahwa grup Telegram ini tidak hanya berisi obrolan biasa, tetapi juga video dan gambar yang memperlihatkan tindakan kejam serta instruksi detail tentang cara melakukan kejahatan seksual.

Dalam grup ini, sebagian besar anggotanya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan sering membahas cara-cara menyerang perempuan, termasuk istri, pacar, ibu, hingga saudara perempuan mereka sendiri.

Mereka bahkan memberikan tautan ke toko online yang menjual obat penenang yang disamarkan sebagai produk sehari-hari, seperti produk perawatan rambut.

Beberapa anggota grup bahkan dengan bangga menceritakan tindakan mereka yang lebih ekstrem, seperti membius istri untuk kemudian ditawarkan kepada pria lain.

Telegram, yang didirikan oleh miliarder teknologi Rusia Pavel Durov pada tahun 2013, sudah lama dikenal karena enkripsi yang kuat dan penolakannya untuk berbagi data pengguna dengan pemerintah.

Meskipun begitu, kebijakan ini ternyata membuka celah bagi kegiatan ilegal dan sangat berbahaya seperti yang ditemukan dalam investigasi ini.

Selain perdagangan narkoba dan eksploitasi seksual anak, Telegram juga menjadi tempat berkembangnya kekerasan seksual.

Telegram mengklaim memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap konten ilegal. Namun, platform ini masih mendapat kritik karena lambannya dalam menanggapi laporan pelanggaran.

Seperti yang dilaporkan oleh Reuters, Telegram menolak berkolaborasi dengan organisasi seperti National Centre for Missing and Exploited Children (NCMEC) atau Internet Watch Foundation (IWF), yang bekerja untuk menanggulangi konten berbahaya.

Bahkan Telegram juga enggan ikut serta dalam inisiatif yang bertujuan untuk memerangi pornografi balas dendam.

Kontroversi ini semakin memanas setelah Pavel Durov, pendiri Telegram, ditangkap di Prancis pada Agustus 2024 dengan tuduhan terkait pengabaian moderasi platform yang berujung pada penyalahgunaan.

Meskipun akhirnya dibebaskan dengan jaminan, Durov tetap berada dalam tahanan rumah sementara menunggu persidangan.

Temuan investigasi ini juga mencerminkan gambaran lebih luas tentang kekerasan seksual. Menurut Cambridge Rape Crisis Centre, satu dari empat wanita di Inggris dan Wales mengalami kekerasan seksual setidaknya satu kali sepanjang hidup mereka.

Sayangnya, banyak dari kekerasan ini justru terjadi oleh orang-orang terdekat, dengan wanita lebih berisiko menjadi korban kekerasan dari pasangan intim mereka sendiri.

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya adanya regulasi yang lebih ketat terhadap platform online, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga secara internasional.

Online Safety Bill yang diterapkan di Inggris pada 2023 adalah langkah yang tepat dalam mewajibkan platform media sosial untuk lebih bertanggung jawab dalam melindungi penggunanya dari konten ilegal.

Namun, agar inisiatif ini berhasil, penegakan yang konsisten di seluruh dunia sangat diperlukan. ***

Taruna Akademi Polisi
Taruna Akademi Polisi
Editor : Azril Arham
#telegram #mesum #kejahatan seksual #Platform Telegram