Radarbangkalan.id - Startup eFishery kini terjerat dalam kasus dugaan pemalsuan laporan keuangan.
Hasil audit mengungkapkan bahwa manajemen eFishery memiliki dua laporan keuangan yang berbeda sejak 2018, satu untuk kebutuhan internal dan satu lagi untuk eksternal.
Baca Juga: Daftar Harga Samsung Galaxy S25 Series di Indonesia: S25, S25 Plus, dan S25 Ultra
Pada laporan keuangan internal, eFishery mencatat pendapatan sebesar Rp2,6 triliun selama periode 9 bulan, yakni dari Januari hingga September 2024.
Sementara itu, laporan keuangan eksternal menunjukkan pendapatan yang jauh lebih besar, mencapai Rp12,3 triliun, hampir 4,8 kali lipat lebih besar.
Laporan keuangan eksternal memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Pada 2021, pendapatan tercatat Rp1,6 triliun, naik menjadi Rp5,8 triliun pada 2022,
dan mencapai Rp10,8 triliun pada 2023. Angka ini sangat berbeda dengan laporan internal yang menunjukkan pendapatan hanya sebesar Rp1 triliun pada 2021, Rp4,3 triliun pada 2022, dan Rp6 triliun pada 2023.
Pencatatan profit sebelum pajak juga menunjukkan perbedaan mencolok. Berdasarkan laporan eksternal,
eFishery mencatat profit sebelum pajak senilai Rp261 miliar untuk periode Januari-September 2024.
Baca Juga: Daftar Harga Samsung Galaxy S25 Series di Indonesia: S25, S25 Plus, dan S25 Ultra
Namun, laporan internal menunjukkan kerugian sebesar Rp578 miliar pada periode yang sama.
Sejak 2021 hingga 9 bulan 2024, laporan eksternal menunjukkan pertumbuhan profit yang stabil, sementara laporan internal justru mencatatkan kerugian yang terus berlanjut.
Kerugian terbesar terjadi pada 2022, yang mencapai Rp784 miliar, dan pada 2023, kerugian mencapai Rp759 miliar.
Manipulasi ini tidak hanya terjadi pada laporan keuangan, tetapi juga pada klaim mantan CEO Gibran Huzaifah yang menyatakan kepada investor bahwa perusahaan memiliki lebih dari 400.000 fasilitas pakan.
Baca Juga: Viral! Ibu-Ibu Telepon Damkar Minta Tolong Tangkap Setan, Petugas Langsung Datang
Kenyataannya, eFishery hanya memiliki sekitar 24.000 fasilitas pakan. Gibran diduga memerintahkan penggelembungan biaya modal untuk pembelian pakan guna menutupi kondisi keuangan yang memburuk.
Menurut laporan audit, manipulasi ini dimulai sejak 2018 dengan tujuan untuk memperoleh pendanaan Seri A.
Pada 2022, eFishery diduga membentuk 5 perusahaan yang dikendalikan oleh Gibran dengan nama orang lain,
yang berfungsi untuk mencatat perputaran uang dan menggenjot pendapatan serta pengeluaran perusahaan.
Pada 2023, Gibran dan timnya diduga memalsukan dokumen pendukung seperti invoice, kontrak, dan pembukuan.
Pada pertengahan Desember, eFishery mengumumkan pengangkatan Adhy Wibisono sebagai CEO interim menggantikan Gibran Huzaifah.
Adhy sebelumnya menjabat sebagai CFO perusahaan, sementara Albertus Sasmitra ditunjuk sebagai CFO interim menggantikan Adhy.
Baca Juga: Tragis! Remaja 17 Tahun di Jaksel Dipaksa Layani 210 Pria Hidung Belang
“eFishery saat ini beroperasi di bawah kepemimpinan Adhy Wibisono, sebagai Interim CEO, dan Albertus Sasmitra, sebagai Interim CFO.
Keputusan ini diambil bersama shareholder perusahaan, sebagai wujud komitmen untuk meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik,” ujar juru bicara eFishery dalam pernyataan tertulis.
eFishery menyatakan bahwa mereka memahami keseriusan isu yang sedang beredar dan akan menanggapinya dengan perhatian penuh.
Perusahaan berkomitmen untuk menjaga standar tertinggi dalam tata kelola dan etika operasional.
eFishery, yang didirikan oleh Gibran Huzaifah pada 2013 di Bandung, telah mencapai status unicorn setelah memperoleh pendanaan Seri D senilai US$ 200 juta pada 2023.
Baca Juga: Tragis! Remaja 17 Tahun di Jaksel Dipaksa Layani 210 Pria Hidung Belang
Editor : Ubaidillah