Radarbangkalan.id - Puasa Ramadan tahun 2025 segera dimulai. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh umat Islam di Indonesia adalah larangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait peredaran kurma hasil pertanian Israel.
Baca Juga: Daftar Klasemen 6 Besar Liga Korupsi di Indonesia
Penetapan Awal Ramadan 2025
Kementerian Agama (Kemenag) dijadwalkan menggelar Sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadan 1446 Hijriah pada Jumat, 28 Februari 2025, pukul 16.00 WIB.
Diperkirakan, hasil sidang isbat akan menetapkan awal puasa Ramadan versi pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) bersamaan dengan Muhammadiyah.
Sebelum sidang isbat, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal puasa Ramadan 2025 jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.
Ketetapan ini didasarkan pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang juga menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H jatuh pada Minggu, 30 Maret 2025.
Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah.
Dilansir dari Kompas.com, Muhammadiyah telah meninggalkan kriteria wujudul hilal dan kini menggunakan KHGT dalam penentuan awal bulan Hijriah.
Kriteria KHGT ini disepakati dalam Muktamar Kalender Islam Global yang berlangsung di Turkiye pada 2016. Prinsip utamanya adalah menetapkan satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia.
MUI mengeluarkan larangan menjual dan membeli kurma Israel pada awal tahun 2025. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan bahwa larangan ini bertujuan untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina.
"Jangan di bulan Ramadan menjual produk-produk Israel. Kurma itu halal, enak, saya juga pencinta kurma, halal dzatnya,
tapi jadi haram karena uang hasil penjualannya itu untuk membunuh warga Palestina," katanya, diberitakan Kompas.com (11/3/2024).
Meski demikian, MUI tidak menerbitkan daftar resmi produk yang diboikot karena terafiliasi dengan gerakan Zionisme dan Israel.
Sebaliknya, MUI mendorong masyarakat dan akademisi untuk melakukan riset mandiri terhadap produk yang terkait dengan Zionisme dan Israel.
Selain itu, umat Islam diimbau untuk terus mendukung gerakan boikot terhadap produk impor yang berafiliasi dengan Zionisme.
Beberapa merek kurma diketahui berasal dari Israel atau dari perusahaan yang memiliki hubungan dengan negara tersebut. Menurut BDS Coalition, merek kurma yang berasal dari Palestina antara lain:
-
Lara
-
Green World
-
Alard
-
Palestine Just Trade
-
Jericho Delights
-
Al-Rowad
-
Sultan
-
Qitaf & Yolo
Sementara itu, Palestine Campaign Society mengungkapkan bahwa Hadiklaim adalah salah satu eksportir kurma terbesar Israel. Perusahaan ini menjual kurma dengan merek berikut:
-
King Solomon
-
Jordan River
-
Jordan River Bio-Top
Selain Hadiklaim, beberapa perusahaan lain yang diketahui mengekspor kurma Israel meliputi Mehadrin, MTex, Edom, Carmel Agrexco, dan Arava.
Gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) Australia menyarankan beberapa langkah untuk memastikan kurma yang dibeli bukan produk Israel:
-
Periksa negara asal pada kemasan
Kurma "medjool" yang berasal dari Lembah Yordan di Palestina yang diduduki Israel harus dihindari. Pastikan membaca informasi asal produk pada kemasan. -
Periksa barcode produk
Hindari membeli produk dengan barcode yang diawali angka 729, karena merupakan kode produk dari Israel. -
Cek asal negara impor
Produk kurma impor seharusnya mencantumkan negara asalnya. Hindari produk yang tidak mencantumkan informasi asal negara. -
Tanyakan kepada pihak toko
Jika ragu, tanyakan langsung kepada penjaga atau manajer toko mengenai asal kurma yang dijual. -
Cari alternatif kurma dari negara lain
Umat Islam dianjurkan untuk membeli kurma dari negara-negara yang tidak terafiliasi dengan Israel, seperti Palestina, Arab Saudi, dan Tunisia.
Dengan memahami pentingnya boikot produk Israel, umat Islam dapat berkontribusi dalam mendukung perjuangan Palestina serta memastikan konsumsi produk yang lebih sesuai dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Editor : Ubaidillah