Radarbangkalan.id - Idul Fitri merupakan hari raya yang dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam perayaan ini adalah sholat Idul Fitri yang dilaksanakan secara berjamaah.
Baca Juga: Agar Mudik Lebaran 2025 Aman dan Nyaman untuk Anak, Simak Rekomendasi KPAI
Setelah pelaksanaan sholat Id, biasanya dilanjutkan dengan khutbah Idul Fitri. Dalam khutbah ini, khatib menyampaikan pesan-pesan keagamaan,
termasuk ajakan untuk terus menjaga dan menerapkan nilai-nilai agama yang telah diperoleh selama bulan Ramadhan.
Selain itu, momen ini juga menjadi kesempatan bagi imam atau khatib untuk menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan saling memaafkan.
Hari raya Idul Fitri adalah waktu yang penuh berkah untuk mempererat hubungan dengan sesama, baik keluarga, sahabat, maupun masyarakat luas.
Kembali kepada Fitrah dan Tauhid
Idul Fitri memiliki makna mendalam, yaitu kembalinya manusia kepada fitrah. Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan mulia, baik secara jasmani maupun ruhani.
Namun, kehidupan dunia yang penuh godaan sering kali membuat manusia lupa akan fitrahnya. Oleh karena itu, momen Idul Fitri seharusnya menjadi waktu untuk introspeksi dan kembali kepada ajaran tauhid yang murni.
Sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)." (QS At-Tin: 4-5)
"Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS Al-Isra': 70)
Namun, banyak manusia yang gagal mempertahankan kemuliaan tersebut, sehingga terjerumus dalam keburukan. Oleh karena itu, Ramadhan yang telah dilalui diharapkan menjadi sarana untuk membersihkan diri dan kembali kepada fitrah yang suci.
Tauhid Sebagai Prinsip Hidup
Tauhid bukan sekadar keyakinan akan kebesaran Allah SWT, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tauhid harus tercermin dalam solidaritas sosial, kepedulian terhadap sesama, serta menjunjung tinggi keadilan.
Sebagaimana firman Allah:
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulb (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab 'Betul, kami bersaksi.'" (QS Al-A'raf: 172)
Dengan tauhid, umat Islam harus melawan ketidakadilan, menghindari takhayul, dan menjauhi sikap relativisme agama yang mencampurkan keyakinan. Tauhid harus menjadi pedoman dalam hubungan sosial serta dalam menjaga lingkungan.
Islam sebagai Agama Kemajuan dan Kemanusiaan
Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ajarannya menuntun manusia untuk menjunjung tinggi perdamaian, empati, serta solidaritas sosial. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Wahai manusia, sebarluaskan perdamaian, berilah makan, jalinlah silaturrahim, dan sholatlah pada waktu malam ketika manusia sedang tidur, engkau akan masuk surga dengan damai." (HR Tirmidzi)
Islam mengajarkan pentingnya ilmu, keadilan, dan kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan. Jika umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran ini dengan sungguh-sungguh, maka mereka akan menjadi umat yang maju dan unggul. Sebagaimana firman Allah:
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." (QS Ali Imran: 110)
Dengan memahami Islam secara benar, umat Islam dapat berperan dalam menentukan arah kehidupan global dan membawa manfaat bagi dunia.
Editor : Ubaidillah