News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Strategi Cerdas Prabowo Hadapi Tarif Impor Trump, Apa Saja Gebrakannya?

Azril Arham • Jumat, 4 April 2025 | 13:29 WIB

 

Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto

RadarBangkalan.id - Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan tiga gebrakan besar untuk menghadapi dinamika global, termasuk kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dan memperkuat daya saing di pasar internasional.

"Dalam menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan tarif baru Amerika Serikat, Presiden Prabowo menunjukkan ketajaman melihat dinamika geopolitik. Pemahaman mendalam tentang hubungan internasional dan perdagangan global menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia," ungkap Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Noudhy Valdryno, Kamis (3/4/2025).

1. Perluasan Jaringan Dagang Internasional

Langkah pertama yang diambil Prabowo adalah memperkuat jaringan perdagangan Indonesia dengan mitra global.

Salah satu langkah strategisnya adalah mengajukan keanggotaan Indonesia dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan).

Kelompok ekonomi ini mencakup sekitar 40% dari total perdagangan global, sehingga menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor.

Selain itu, Indonesia juga aktif dalam berbagai perjanjian perdagangan multilateral, seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang mencakup 10 negara ASEAN serta Australia, China, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Tak hanya itu, aksesi ke Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) serta partisipasi dalam CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA semakin memperkuat posisi Indonesia dalam perekonomian global.

Selain kerja sama multilateral, Prabowo juga memperluas perjanjian dagang bilateral dengan berbagai negara seperti Korea, Jepang, Australia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Iran, dan Chile.

Hal ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di pasar internasional dan mengurangi ketergantungan terhadap AS.

2. Percepatan Hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA)

Selama ini, Indonesia kerap mengekspor sumber daya alam dalam bentuk mentah. Untuk meningkatkan nilai tambah, Prabowo menggenjot program hilirisasi industri.

Salah satu keberhasilan nyata dari strategi ini adalah pada sektor nikel. Pada tahun 2014, ekspor nikel hanya bernilai US$ 3,7 miliar, namun angka ini melonjak drastis menjadi US$ 34,3 miliar pada 2022 setelah hilirisasi diterapkan.

Demi mempercepat hilirisasi SDA strategis lainnya, pada 24 Februari 2025, Prabowo meluncurkan BPI Danantara, lembaga yang bertugas mendanai dan mengelola proyek hilirisasi di berbagai sektor seperti mineral, batu bara, minyak bumi, gas bumi, perkebunan, kelautan, perikanan, dan kehutanan.

Dengan kebijakan ini, Indonesia tidak hanya meningkatkan daya saing ekspor tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap investasi asing, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.

3. Penguatan Daya Beli Masyarakat

Strategi ketiga yang diterapkan Prabowo adalah memperkuat daya beli masyarakat dengan program-program yang langsung menyentuh kesejahteraan rakyat.

Salah satu program andalan yang akan diluncurkan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menargetkan 82 juta penerima manfaat pada akhir 2025.

Selain itu, Prabowo juga berencana membangun 80.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk memperkuat perekonomian desa.

Program ini diharapkan bisa membuka jutaan lapangan pekerjaan baru serta meningkatkan perputaran uang di daerah.

Dengan meningkatnya konsumsi domestik yaitu yang saat ini mencakup sekitar 54% dari PDB Indonesia perekonomian nasional diyakini akan semakin kuat.

Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor serta memperkuat industri dalam negeri. ***

 

Editor : Azril Arham
#donald trump #Tarif impor AS #tarif impor era trump #prabowo #ekonomi