Radarbangkalan.id - Seorang dokter kandungan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap pasiennya saat USG.
Informasi ini diketahui VIVA dari unggahan akun Instagram Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni pada Selasa, 15 April 2025.
Baca Juga: 10 HP Terbaik Harga 2 Jutaan Terbaru April 2025
Sahroni membagikan rekaman CCTV yang menampilkan dokter kandungan tengah memeriksa seorang ibu hamil menggunakan alat USG.
Namun, dalam video 53 detik itu, tampak tangan kiri dokter tersebut masuk ke area dada pasien. Rekaman yang viral tersebut memicu kemarahan publik, terlebih karena disebutkan sudah ada lebih dari satu korban yang mengenali dokter dalam video.
Sosok yang diduga terlibat dalam insiden ini adalah Muhammad Syafril Firdaus, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang sebelumnya dikenal cukup aktif di media sosial.
Syafril Firdaus dikenal sebagai dokter spesialis kandungan yang menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad).
Baca Juga: Viral! Link Video Asusila Pasangan Muda 5 Menit 51 Detik di Sampit
Ia sempat aktif berbagi informasi kesehatan reproduksi lewat akun Instagram dan X (sebelumnya Twitter) dengan nama pengguna @irilsyafril.
Dalam sejumlah situs kesehatan daring seperti Medicastore, ia tercatat sebagai tenaga medis yang praktik di salah satu klinik di wilayah Garut.
Namun, sejak kasus dugaan pelecehan seksual ini mencuat, jejak digitalnya perlahan menghilang.
Akun Instagram-nya sudah tidak bisa diakses, dan akun X-nya kini diubah ke mode privat. Langkah ini memicu spekulasi dari warganet, mengingat sebelumnya ia cukup terbuka dan aktif memberikan edukasi kesehatan di ranah publik.
Baca Juga: 10 HP Terbaik Harga 2 Jutaan Terbaru April 2025
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, membenarkan bahwa ada dugaan pelecehan seksual terhadap pasien oleh seorang dokter,
dan kasus tersebut terjadi di tahun 2024 lalu. Namun, ia memastikan bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi di fasilitas kesehatan milik pemerintah.
“Saya harus periksa lagi pastinya kapan, tapi kalau tidak salah ini di tahun 2024. Kejadiannya bukan di RS milik pemerintah,” ungkap dr. Leli singkat.
Editor : Ubaidillah