News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

PHK Terus Meningkat, Ekonomi Indonesia Terancam Lemah, Apa Dampaknya bagi Konsumsi Masyarakat?

Azril Arham • Kamis, 8 Mei 2025 | 22:48 WIB
Ilustrasi PHK
Ilustrasi PHK

RadarBangkalan.id - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengungkapkan bahwa maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia berpotensi berdampak signifikan terhadap perekonomian.

Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat hanya sebesar 4,87%. Lantas, apa hubungan PHK dengan pertumbuhan ekonomi kita?

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter & Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa PHK yang terjadi di banyak sektor akan memengaruhi daya beli masyarakat.

"Pasti impact-nya akan terasa pada pertumbuhan ekonomi. PHK akan mengurangi daya beli masyarakat, dan ujung-ujungnya mempengaruhi konsumsi," katanya saat acara Efektivitas Kebijakan Moneter Pro-market untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah di Jakarta, Rabu (7/5/2025).

Daya beli masyarakat yang menurun akibat PHK ini tentunya dapat menghambat konsumsi, yang merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, faktor eksternal seperti kondisi perdagangan dunia yang kurang stabil, membuat ekspor Indonesia semakin tertekan, yang tentunya berkontribusi pada kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Selain itu, Erwin juga mengungkapkan bahwa kebijakan luar negeri, seperti tarif impor tinggi yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk Indonesia, berpotensi memperburuk situasi.

Saat ini, tarif impor Indonesia yang mencapai 32% dapat mempengaruhi daya saing produk ekspor Indonesia, yang tentu saja berisiko memicu lebih banyak PHK di perusahaan-perusahaan yang bergantung pada pasar ekspor.

Pemerintah Indonesia memang tengah melakukan upaya negosiasi dengan pihak AS untuk mencari solusi terbaik, namun hal ini tentu membutuhkan waktu.

Meskipun demikian, Erwin mengingatkan bahwa perusahaan-perusahaan yang sudah terdampak tarif impor tersebut mungkin tidak akan mampu menahan beban biaya yang terus membengkak.

Jika perusahaan terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja, PHK massal bisa menjadi jalan keluar yang dipilih.

Tak hanya berdampak pada sektor perusahaan, situasi ini juga berisiko menurunkan nilai tukar rupiah.

Erwin menjelaskan bahwa meski dampak PHK tidak langsung terkait dengan nilai tukar, namun penurunan daya beli dan lambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa membuat para pelaku pasar kurang optimis terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan.

"Tentu saja, ini akan mempengaruhi persepsi pasar terhadap ekonomi kita," tutupnya.

Seiring dengan banyaknya PHK yang terjadi, kita harus semakin waspada terhadap dampak jangka panjang terhadap perekonomian Indonesia, terutama pada daya beli masyarakat yang akan semakin tergerus. ***

Editor : Azril Arham
#phk #Gelombang PHK #PHK di Indonesia #ekonomi #pertumbuhan ekonomi