RadarBangkalan.id - Meningkatnya kasus yang disebut sebagai super flu di Amerika Serikat belakangan ini menjadi perhatian para ahli kesehatan dunia.
Meski istilah super flu kerap digunakan di masyarakat, para pakar menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan diagnosis medis resmi.
Baca Juga: Apa Itu Super Flu? Dokter IDAI Jelaskan Fakta Sebenarnya
Istilah super flu merujuk pada infeksi virus influenza A H3N2 subklade K yang dinilai memiliki tingkat penularan lebih cepat dibandingkan flu musiman biasa. Lonjakan kasus inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran di berbagai negara.
Apa Itu Super Flu Menurut Dokter
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa super flu bukan istilah ilmiah dalam dunia medis.
“Super flu bukan merupakan istilah medis. Istilah ini sering dipakai masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza A H3N2 subklade K,” ujar Piprim.
Baca Juga: Viral Curhat Guru ASN Pasuruan soal Jarak 57 Km, Berujung Pemecatan
Menurutnya, virus ini menjadi perhatian karena dinilai mampu menembus kekebalan tubuh yang telah terbentuk, baik dari infeksi sebelumnya maupun dari vaksin influenza.
Gejala Super Flu yang Perlu Diwaspadai
Para pakar di Indonesia maupun Amerika Serikat menyebutkan bahwa gejala super flu mirip dengan influenza A pada umumnya, namun sering terasa lebih berat dan muncul secara mendadak.
Anggota UKK Respirologi IDAI, dr. Nastiti Kaswandani, menyebutkan gejala yang kerap muncul meliputi demam tinggi, kelelahan berat, nyeri otot atau myalgia, menggigil hebat, pilek atau hidung tersumbat, serta nyeri tenggorokan.
Baca Juga: Laporan Inara Rusli terhadap Insanul Fahmi Dicabut, Ini Penjelasan Polda Metro
Sementara itu, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, Ph.D., menyatakan bahwa strain H3N2 dikenal lebih berat, terutama pada anak-anak dan lansia.
“H3N2 umumnya dianggap lebih parah di semua kelompok usia, terutama pada lansia dan anak-anak kecil,” jelas Pekosz.
Baca Juga: Dosen UIM AS Akui Lepas Kontrol, Bantah Serobot Antrean Kasir Swalayan
Ia menambahkan bahwa gejalanya sering muncul tiba-tiba dan sangat intens, bahkan digambarkan pasien seperti “ditabrak truk”. Keluhan lain yang umum dirasakan meliputi sakit kepala, batuk, hidung berair, serta panas dingin ekstrem yang membuat penderita tidak mampu beraktivitas selama beberapa hari.
Alasan Super Flu Dianggap Lebih Berbahaya
Menurut dr. Nastiti, salah satu alasan virus ini dijuluki super flu adalah karena kecepatan penularannya yang tinggi.
“Penularan terjadi melalui droplet saat batuk, bersin, atau kontak dengan cairan napas. Satu orang bisa menularkan ke dua hingga tiga orang lainnya,” ujarnya.
Beberapa ahli di Amerika Serikat bahkan menduga angka penularannya bisa lebih tinggi, meski hal tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat penyebarannya.
Baca Juga: Kasus Mayat Mahasiswi ULM Terungkap, Oknum Polisi Bunuh Korban karena Panik
Mirip Covid-19, Perlu Kewaspadaan
Gejala super flu dinilai sangat mirip dengan Covid-19 maupun infeksi saluran pernapasan lainnya. Karena itu, pemeriksaan diagnostik menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab penyakit.
“Flu bukan sekadar pilek. Flu bisa sangat parah,” tegas Pekosz.
Pada umumnya, flu dapat sembuh dalam waktu lima hingga tujuh hari. Namun, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi berkepanjangan, tanda dehidrasi, atau kesulitan bernapas.
PHBS Jadi Kunci Pencegahan
Menghadapi peningkatan kasus influenza A H3N2 subklade K, dr. Piprim menekankan pentingnya kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Baca Juga: Kasus Mayat Mahasiswi ULM Terungkap, Oknum Polisi Bunuh Korban karena Panik
“Pada prinsipnya, setiap penyakit menular, hal pertama yang harus dilakukan adalah PHBS,” ujarnya.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kerumunan dinilai tetap efektif untuk menekan penularan.
Baca Juga: Viral Dugaan Pengusiran Nenek Elina, Kantor Ormas Madas Didatangi Massa
Dengan mengenali gejala sejak dini dan meningkatkan kewaspadaan, masyarakat diharapkan dapat melindungi diri sendiri maupun orang di sekitarnya dari dampak flu yang tidak bisa dianggap sepele.
Editor : Ubaidillah