News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Super Flu Jadi Sorotan, Ini Penjelasan DPR, Kemenkes, dan Para Ahli

Ubaidillah • Sabtu, 3 Januari 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi foto dari virus H3N2. Foto: Celso Pupo/Shutterstock
Ilustrasi foto dari virus H3N2. Foto: Celso Pupo/Shutterstock

RadarBangkalan.id - Fenomena yang disebut super flu kembali menjadi perbincangan publik setelah Kementerian Kesehatan RI mendeteksi puluhan kasus influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.

Isu ini juga menguat seiring meningkatnya angka rawat inap akibat influenza di Amerika Serikat. Meski begitu, pemerintah dan para ahli menegaskan masyarakat tidak perlu panik.

Baca Juga: Mulai 2 Januari 2026, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Atur Ulang Soal Perzinahan

DPR Minta Publik Tetap Tenang

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, meminta masyarakat tidak bereaksi berlebihan menyikapi temuan super flu di Indonesia.

Ia menegaskan, berdasarkan informasi Kemenkes, varian H3N2 subclade K tidak terbukti menyebabkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza sebelumnya.

Menurut Netty, keterbukaan informasi dan pemantauan aktif yang dilakukan pemerintah menjadi kunci agar masyarakat tetap tenang dan rasional.

Baca Juga: Apa Itu Super Flu? Dokter IDAI Jelaskan Fakta Sebenarnya

Ia juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan diri dan menggunakan masker dalam kondisi tertentu.

Kemenkes Catat 62 Kasus di Delapan Provinsi

Kemenkes RI mencatat hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang terdeteksi melalui sistem surveilans nasional.

Kasus tersebut tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Sambut Tahun Baru 2026, dari Horor hingga Romantis

Juru bicara Kemenkes, drg Widyawati, menjelaskan bahwa data tersebut diperoleh dari 88 sentinel ILI-SARI yang diperiksa di laboratorium kesehatan masyarakat dan laboratorium rujukan berstandar BSL-3. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.

Lonjakan Kasus Influenza di Amerika Serikat

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa virus influenza A H3N2 bukanlah virus baru.

Baca Juga: Akhirnya Terungkap! Purbaya Buka-Bukaan Soal Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026

Ia mengingatkan dunia pernah mengalami lonjakan besar kasus influenza akibat H3N2 pada 1968, meski saat itu belum dikenal subclade K.

Berdasarkan data terbaru per 30 Desember 2025, influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian Amerika Serikat.

Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit meningkat tajam menjadi lebih dari 19 ribu orang, hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.

Kelompok Rentan Perlu Perlindungan Ekstra

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.

Gejalanya umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.

Baca Juga: Viral Curhat Guru ASN Pasuruan soal Jarak 57 Km, Berujung Pemecatan

Meski demikian, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta tetap perlu mendapat perhatian khusus.

Kemenkes menganjurkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat serta vaksinasi influenza tahunan bagi kelompok berisiko.

Perbedaan Super Flu dan Flu Biasa

Dokter Ngabila Salama menjelaskan bahwa istilah super flu lebih menggambarkan beratnya gejala yang dirasakan sebagian penderita.

Baca Juga: Apa Itu Super Flu? Dokter IDAI Jelaskan Fakta Sebenarnya

Jika flu biasa umumnya hanya menimbulkan pilek, batuk ringan, dan pegal ringan, maka super flu bisa menyebabkan demam tinggi mendadak, nyeri otot berat hingga badan terasa remuk, sakit kepala hebat, serta lemas ekstrem.

Durasi sakit juga cenderung lebih lama, bisa mencapai 7 hingga 14 hari, serta berisiko menimbulkan komplikasi seperti radang paru, terutama pada kelompok rentan.

Menkes Tegaskan Tidak Sebahaya COVID-19

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa super flu bukan penyakit baru dan tidak mematikan seperti COVID-19.

Baca Juga: Laporan Inara Rusli terhadap Insanul Fahmi Dicabut, Ini Penjelasan Polda Metro

Ia menjelaskan bahwa H3N2 adalah virus influenza lama yang terus bermutasi, serupa dengan varian-varian yang pernah terjadi pada COVID-19.

Menkes mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga imunitas tubuh, cukup istirahat, dan menjaga kesehatan.

Menurutnya, dengan kondisi tubuh yang baik, influenza H3N2 umumnya dapat pulih seperti flu biasa tanpa perlu kekhawatiran berlebihan.

Dengan berbagai penjelasan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa situasi super flu di Indonesia masih terkendali.

Kewaspadaan tetap diperlukan, namun masyarakat diharapkan tetap tenang dan fokus pada langkah pencegahan dasar.

Editor : Ubaidillah
#penyakit #Super Flu #flu