News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Harga Emas Tembus Rp 3 Juta per Gram, Pengamat Prediksi Bisa Naik Rp 4,2 Juta pada 2026

Ubaidillah • Jumat, 30 Januari 2026 | 06:20 WIB
Tren investasi emas batangan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Tren investasi emas batangan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

RadarBangkalan.id - Harga emas dunia dan domestik tengah memasuki fase yang dinilai sebagai periode historis.

Lonjakan harga emas global yang menembus rekor tertinggi di level USD 5.000 per troy ons ikut mendorong harga emas batangan di Indonesia menembus Rp 3.000.000 per gram.

Baca Juga: Minta Dihukum Mati, Noel Tantang KPK di Sidang Kasus Pemerasan K3

Kondisi ini memicu meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, baik sebagai instrumen lindung nilai maupun investasi jangka panjang.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi menyebut tren penguatan harga emas masih berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Ia memproyeksikan harga emas domestik berpeluang menembus Rp 4,2 juta per gram pada 2026.

Baca Juga: Heboh Isu Spons Bedak, Polisi Tegaskan Es Gabus Viral di Jakpus Aman untuk Dikonsumsi

“Perkiraan (harga emas Antam) Rp 4,2 juta per gram. Masyarakat sudah melek teknologi dan bergegas beli logam mulia baik fisik maupun emas digital di bullion bank yaitu BSI dan pegadaian,” ujar Ibrahim kepada kumparan, Kamis (29/1).

Menurut Ibrahim, meningkatnya literasi keuangan dan kemudahan akses pembelian emas secara digital turut mempercepat permintaan.

Baca Juga: Bocoran Android 17 Mulai Terungkap, Google Fokus Rombak Tampilan dan Sistem

Masyarakat kini tidak hanya membeli emas fisik, tetapi juga memanfaatkan layanan emas digital yang ditawarkan perbankan syariah dan lembaga keuangan.

Lonjakan Emas Global Bukan Sekadar Spekulasi

Dari perspektif global, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council Joseph Cavatoni menilai lonjakan harga emas bukan hanya fenomena spekulatif.

Baca Juga: BPOM Temukan 26 Produk Kosmetik Berbahaya, Mengandung Merkuri hingga Hidrokuinon

Ia menyebut kenaikan emas mencerminkan perubahan besar perilaku investor global yang merespons ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

Dalam 30 hari terakhir, harga emas bahkan melonjak lebih dari USD 500, menandakan sentimen pasar berubah sangat cepat.

Baca Juga: Whip Pink Gas Dikaitkan dengan Kematian Lula Lahfah, Ini Penjelasan Lengkapnya

“Risiko terbesar bagi emas adalah membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa disertai ketegangan geopolitik.

Kepastian jalur pertumbuhan, berkurangnya ketidakpastian, serta pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan dapat mengurangi urgensi kepemilikan aset defensif,” kata Cavatoni dalam keterangan tertulis.

Cavatoni menambahkan, selama ketidakpastian global dan kebutuhan diversifikasi masih bertahan, emas diperkirakan tetap berada di level tinggi hingga 2026 dan terus menguji rekor baru.

Baca Juga: Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026, Ini Versi Muhammadiyah dan Kementerian Agama

“Kebutuhan diversifikasi, emas diprediksi akan tetap berada di atas level tertinggi sebelumnya dan terus menguji level baru pada 2026,” ungkapnya.

FOMO Beli Emas Meningkat, Ini Peringatan Perencana Keuangan

Di Indonesia, tingginya harga emas juga memicu fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan masyarakat.

Perencana Keuangan Mike Rini menilai kondisi ini perlu disikapi secara hati-hati, terutama bagi investor ritel yang membeli emas tanpa perencanaan keuangan matang.

Mike menegaskan, membeli emas saat harga berada di level tertinggi bukan pilihan ideal bila tujuannya mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih jual beli.

Baca Juga: Deddy Corbuzier Murka soal Foto Terakhir Lula Lahfah: You Got No Moral

Ia menyebut emas tetap fluktuatif dan berpotensi mengalami koreksi setelah menyentuh rekor.

Meski begitu, emas masih relevan sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan nilai untuk jangka menengah hingga panjang.

“Jadi, membeli emas saat ini masih bisa menguntungkan jika, ini hanya jika ya, jika tujuannya sebagai bagian dari strategi alokasi aset yang seimbang,” kata Mike.

Baca Juga: Hasil Aston Villa vs RB Salzburg 3-2 Liga Europa: Sempat Tertinggal 0-2, The Villans Comeback Dramatis

Ia mencontohkan pembelian emas masih logis untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak atau perlindungan nilai terhadap inflasi.

Namun, membeli emas dalam jumlah besar untuk spekulasi jangka pendek dinilai berisiko tinggi, terutama saat harga sudah berada di puncak.

Mike juga menyoroti risiko timing risk bagi investor pemula, yaitu upaya menebak waktu terbaik masuk dan keluar pasar yang sering berujung kerugian.

Baca Juga: Polisi Periksa Reza Arap soal Kematian Selebgram Lula Lahfah, Ditanya 30 Pertanyaan

“Jadi, jangan overconfidence bahwa ketika melihat statistik harganya naik terus, kita tunggu-tunggu sampai tinggi, masih ragu-ragu, begitu sudah ketinggian, mulai panik beli, takut ketinggalan, baru yakinnya sekarang. Itu timing market, mencoba untuk masuk ke market pada harga yang paling tepat,” ungkap Mike.

Beli Emas di Harga Tinggi Masih Berpeluang Untung

Sementara itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho menilai membeli emas di fase harga tinggi masih berpotensi memberikan keuntungan.

Baca Juga: Barcelona Comeback 4-1 vs Copenhagen, Lolos Langsung ke 16 Besar Liga Champions

Menurutnya, kondisi geopolitik dan ekonomi global yang semakin tidak menentu bisa terus mendorong harga emas naik.

“Membeli emas di fase ini masih berpotensi untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual kembalinya, mengingat kondisi geopolitik dan ekonomi global yang justru semakin tidak menentu sehingga dapat mendorong harga emas untuk terus naik,” jelas Andy.

Ia mengakui risiko membeli emas di puncak harga tetap ada, terutama jika terjadi koreksi saat hendak dijual.

Namun, karakteristik emas sebagai aset lindung nilai membuat potensi kerugian dinilai tidak terlalu fatal dalam jangka panjang.

Baca Juga: Napoli vs Chelsea Liga Champions 2025/2026: Conte Tanpa De Bruyne, Palmer Mulai dari Bangku Cadangan

Terkait waktu pembelian, Andy menekankan prinsip dasar investasi bahwa waktu terbaik untuk mulai berinvestasi adalah secepat mungkin.

“Salah satu prinsip berinvestasi adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi adalah kemarin. Apabila kemarin kita belum berinvestasi maka waktu yang tepat memulainya adalah hari ini,” tutur Andy.

Baca Juga: Copenhagen Kejutkan Barcelona, Unggul 1-0 di Babak Pertama Liga Champions 2026Andy juga menyarankan masyarakat menyesuaikan strategi pembelian dengan kemampuan finansial.

Pembelian langsung dalam jumlah besar memang bisa memberi keuntungan lebih besar saat harga naik, namun risikonya juga lebih tinggi.

Sebagai alternatif, pembelian bertahap atau cicilan emas melalui bank syariah, marketplace, maupun aplikasi dinilai lebih terjangkau dan dapat membantu mengurangi risiko volatilitas harga.

Editor : Ubaidillah
#antam #emas #harga emas #finansial