RadarBangkalan.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga 4 persen pada sesi I perdagangan, Rabu (4/3/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan pelemahan ini dipicu sentimen global, terutama eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Liverpool Tumbang 1-2 dari Wolves, Mohamed Salah Sempat Samakan Skor
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menjelaskan pergerakan IHSG sejalan dengan indeks regional lain yang juga mengalami koreksi tajam seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, dan ASX. Bahkan, Korea Selatan sempat mengalami trading halt setelah indeksnya turun lebih dari 8 persen.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis Energi,” kata Irvan, Rabu (4/3/2026).
Menurut Irvan, sentimen tersebut turut tercermin pada lonjakan harga minyak dunia. Kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global membuat investor cenderung melakukan aksi jual.
Baca Juga: KPK Tangkap Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dalam OTT di Semarang
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG sempat menyentuh level 7.584,85 dari posisi pembukaan di 7.896,37. Hingga pukul 11.00 WIB, sebanyak 30,6 miliar saham ditransaksikan dengan nilai transaksi mencapai Rp15,734 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 58 saham berada di zona hijau, 702 saham melemah, dan 52 saham stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG juga turun menjadi Rp13.700 triliun.
Konflik AS-Iran Bayangi Pasar Energi Global
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menekan IHSG lebih luas.
Baca Juga: Barcelona Menang 3-0 atas Atletico Madrid, Gagal ke Final Copa del Rey 2025/2026
Menurutnya, ancaman terhadap Selat Hormuz membuat pasar energi global dalam kondisi waspada. Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi energi secara global.
“Selama harga minyak masih di bawah US$90, dampaknya ke pasar biasanya masih berupa volatilitas sentimen. Namun jika Brent menembus US$100 disertai gangguan distribusi fisik, risiko bisa berubah menjadi shock energi yang berpotensi menekan inflasi, rupiah, dan IHSG secara lebih luas,” tulis Liza dalam risetnya.
Baca Juga: Viral Video Ukhti Mukena Pink Tanpa Sensor, Publik Dibuat Penasaran
Kondisi ini membuat pelaku pasar mencermati pergerakan harga minyak dunia serta perkembangan geopolitik sebagai faktor utama penentu arah IHSG dalam waktu dekat.
Editor : Ubaidillah