RadarBangkalan.id - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas dan berdampak langsung pada krisis energi global. Blokade de facto di Selat Hormuz membuat jalur distribusi energi dunia terganggu, termasuk dua kapal milik Indonesia yang kini masih tertahan di wilayah Teluk Arab.
Dua aset strategis milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Pertamina Gamsunoro, menjadi bagian dari dampak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang terus meningkat sejak akhir Februari 2026.
Baca Juga: Kabar Terbaru Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Ini Penjelasan Lengkapnya
Peran Vital Kapal Pertamina dalam Ketahanan Energi
Pertamina Pride merupakan kapal tanker raksasa berjenis Very Large Crude Carrier (VLCC) dengan panjang sekitar 330 meter. Kapal ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah dan menjadi salah satu tulang punggung distribusi energi nasional Indonesia.
Sementara itu, Pertamina Gamsunoro merupakan kapal tanker kelas Aframax dengan kapasitas sekitar 120.000 ton. Kapal ini dikenal fleksibel dalam melayani distribusi energi di jalur internasional, termasuk kawasan Timur Tengah dan Terusan Suez.
Baca Juga: Preview Arsenal WFC vs Tottenham Women: Head to Head, Taktik, dan Pemain Kunci
Kedua kapal ini memiliki peran penting, baik untuk kebutuhan domestik maupun distribusi energi global.
Baca Juga: Pendaftaran UTBK SNBT 2026 Resmi Dibuka, Simak Jadwal dan Cara Daftarnya
Selat Hormuz, Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling strategis di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya. Namun, sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran memperketat pengawasan dan akses di kawasan tersebut.
Bahkan, muncul wacana kebijakan baru berupa pungutan biaya bagi kapal yang melintas, sebagai bentuk kontrol dan jaminan keamanan wilayah.
Baca Juga: Samsung Galaxy A57 5G dan A37 5G Resmi Rilis, Bawa Fitur AI dan Kamera 50MP
Situasi ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak global yang kini menembus lebih dari USD 100 per barel. Sejumlah negara di Asia bahkan mulai melakukan pembatasan distribusi bahan bakar.
Upaya Diplomasi Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bergerak cepat untuk mengamankan kedua kapal tersebut. Koordinasi intensif dilakukan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran.
Pihak Iran dikabarkan telah memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia agar kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Baca Juga: Kabar Duka, Aktor Korea Lee Sang Bo Meninggal Dunia di Usia 44 Tahun
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal dapat melintas dengan aman,” ujar perwakilan Pertamina.
Meski demikian, proses teknis dan situasi di lapangan masih dinamis, sehingga belum ada kepastian waktu kapan kapal-kapal tersebut dapat kembali berlayar.
Baca Juga: Timnas Indonesia Pesta Gol 4-0, Beckham Cetak Brace di Debut John Herdman
Dampak Global dan Harapan ke Depan
Krisis ini tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga memicu ketidakstabilan ekonomi global. Lonjakan harga energi menjadi tantangan serius bagi banyak negara.
Kini, nasib Pertamina Pride dan Gamsunoro sangat bergantung pada hasil diplomasi yang sedang berlangsung. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan solusi terbaik demi menjaga ketahanan energi nasional dan keselamatan aset strategis di tengah konflik global.
Baca Juga: Turki Kalahkan Rumania 1-0, Selangkah Lagi ke Piala Dunia 2026
Editor : Ubaidillah