RadarBangkalan.id - Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyampaikan permohonan maaf kepada Jusuf Kalla terkait perbedaan pandangan soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Gibran menegaskan bahwa usulan untuk menaikkan harga BBM tidak sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta agar harga BBM bersubsidi tetap dijaga stabil dan terjangkau bagi masyarakat.
Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Gibran Desak Proses Hukum Terbuka
“Namun mohon maaf, hal tersebut tidak sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo yang secara jelas memerintahkan menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi,” ujar Gibran dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
Pemerintah, lanjut Gibran, tetap menghargai berbagai masukan dari tokoh nasional, termasuk usulan Jusuf Kalla yang mendorong penyesuaian harga BBM untuk mengurangi beban subsidi energi.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran 2 Pekan Disepakati, Trump Klaim Peluang Damai Nyata
Meski demikian, pemerintah memilih fokus pada efisiensi anggaran serta perlindungan terhadap masyarakat lapisan bawah agar tidak terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok.
Fokus Lindungi Masyarakat dari Dampak Kenaikan Harga
Gibran menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM berpotensi memicu efek berantai seperti naiknya harga bahan pokok, biaya transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Karena itu, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan mempertahankan subsidi energi.
Baca Juga: Arsenal Bungkam Sporting 1-0, Havertz Jadi Pahlawan di Menit 91
Selain itu, pemerintah juga mempercepat transisi energi menuju penggunaan kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Langkah ini ditunjukkan dengan peresmian pabrik kendaraan listrik di Magelang oleh Presiden Prabowo sebagai bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada BBM.
Baca Juga: Timnas Futsal Indonesia Ditahan Australia 1-1, Duel Sengit di Nonthaburi
Jusuf Kalla Usulkan Kenaikan BBM untuk Tekan Defisit
Sebelumnya, Jusuf Kalla mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kenaikan harga BBM di tengah meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik global.
Menurutnya, subsidi energi yang besar berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meningkatkan utang pemerintah.
Baca Juga: Atletico Madrid Hancurkan Barcelona 2-0 di Camp Nou, Pecahkan Kutukan 20 Tahun
Ia menilai pengurangan subsidi melalui kenaikan harga BBM dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas fiskal dalam jangka panjang.
Meski berpotensi memicu penolakan di awal, JK optimistis masyarakat dapat menerima kebijakan tersebut jika disampaikan dengan transparan.
Baca Juga: Viral Pengakuan Anak Denada di TikTok, Sosok Ayah Kandung Disebut “Orang Aceh”
Kebijakan BBM Jadi Dilema di Tengah Gejolak Global
Perbedaan pandangan ini menunjukkan dilema pemerintah dalam menentukan kebijakan energi di tengah situasi global yang tidak stabil.
Di satu sisi, menjaga harga BBM penting untuk melindungi masyarakat. Namun di sisi lain, tekanan fiskal akibat subsidi juga menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan ekonomi nasional.
Baca Juga: Bayern Munich Kalahkan Real Madrid 2-1 di Bernabeu, Modal Penting ke Leg Kedua
Untuk saat ini, pemerintah tetap memilih menjaga stabilitas harga sebagai prioritas utama.
Editor : Ubaidillah