RadarBangkalan.id - Kecelakaan besar terjadi antara kereta rel listrik (KRL) dan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB. Insiden ini melibatkan KRL PLB 5568A relasi KPB–Cikarang dengan KA Argo Bromo PLB 4B relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.
Peristiwa ini disebut sebagai kecelakaan pertama dalam sejarah yang melibatkan tabrakan langsung antara kereta jarak jauh dan kereta perkotaan. Kejadian tersebut langsung menjadi perhatian luas karena dampaknya yang besar.
Baca Juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur, 2 Tewas dan Puluhan Luka
Pakar transportasi sekaligus pemerhati perkeretaapian, Ki Darmaningtyas, menilai insiden ini menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem pengelolaan operasional kereta.
Menurutnya, selama ini belum pernah terjadi tabrakan antara dua moda berbeda tersebut.
“Ini kecelakaan pertama dalam sejarah. Tidak pernah ada senggolan antara kereta jarak jauh dan kereta perkotaan sebelumnya. Ini menandakan ada persoalan serius di tingkat manajerial yang harus segera diaudit,” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Lantik Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Faisol Hanif Diganti
Dari data yang dihimpun, kecelakaan ini menjadi yang terbesar sejak tragedi kereta di Stasiun Petarukan pada 2 Oktober 2010. Kala itu, kecelakaan menewaskan 35 orang, melukai puluhan lainnya, dan menjadi salah satu insiden paling kelam dalam sejarah perkeretaapian nasional.
Baca Juga: Inter Milan Ditahan Torino 2-2, Dua Gol Thuram dan Bisseck Tak Cukup
Dalam kejadian terbaru di Bekasi Timur, sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Hingga kini, proses evakuasi masih terus dilakukan. Petugas gabungan berupaya mengeluarkan korban yang masih terjepit di dalam gerbong yang rusak parah akibat benturan keras.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis, Penjualan Mobil Diesel Terancam Lesu
Insiden ini juga menjadi kecelakaan kedua yang melibatkan kereta jarak jauh dalam waktu kurang dari satu bulan. Sebelumnya, pada 6 April 2026, KA Bangunkarta mengalami anjlok di wilayah Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kecelakaan tersebut mengganggu perjalanan kereta lintas tengah dan menyebabkan keterlambatan hingga beberapa jam.
Rentetan insiden tersebut memperkuat desakan agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional dan manajemen keselamatan di PT Kereta Api Indonesia.
Baca Juga: Skor Milan vs Juventus 0-0, Rossoneri Gagal Kunci Posisi 3 Besar
Para pengamat menilai, peningkatan standar keselamatan dan audit internal menjadi langkah mendesak untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Editor : Ubaidillah