RadarBangkalan.id - Kecelakaan tragis antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line Bekasi–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, menjadi salah satu insiden kereta paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Tabrakan terjadi sekitar pukul 20.50 WIB saat KRL berhenti di jalur peron. Kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang diduga tidak berhenti dan langsung menghantam bagian belakang rangkaian KRL.
Baca Juga: Update Kecelakaan Kereta Bekasi: 15 Meninggal Dunia, Sebagian Masih Diidentifikasi
Akibat insiden ini, jumlah korban meninggal dunia mencapai 15 orang, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan di berbagai rumah sakit.
Diduga Berawal dari Insiden Taksi di Perlintasan
Dugaan awal menyebut kecelakaan dipicu oleh insiden taksi listrik milik Green SM Indonesia yang tertemper KRL di perlintasan sebidang dekat lokasi kejadian.
Baca Juga: Insiden Kereta Terbesar Sejak 2010, KRL vs KA Argo Bromo Tewaskan 5 Orang
Peristiwa tersebut menyebabkan KRL berhenti mendadak di jalur. Dalam kondisi itu, KA Argo Bromo Anggrek yang berada di belakang diduga tetap melaju hingga akhirnya terjadi tabrakan.
Baca Juga: Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur, 2 Tewas dan Puluhan Luka
Investigasi dan Dugaan Kelalaian Sistem
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menurunkan tim investigasi untuk mengusut penyebab pasti kecelakaan.
Baca Juga: MU Tumbangkan Brentford 2-1, Bruno Fernandes Dekati Rekor Assist Premier League
Pengamat transportasi menilai ada dua faktor utama yang perlu diselidiki lebih dalam:
- Gangguan di perlintasan sebidang akibat kendaraan
- Dugaan kelalaian masinis yang tidak mengindahkan sinyal berhenti
Pada jalur Jatinegara–Cikarang sendiri menggunakan sistem persinyalan open block, yang seharusnya otomatis memberi sinyal merah jika ada kereta berhenti di depan.
Baca Juga: Persija Hancurkan Persis Solo 4-0, Allano hingga Gustavo Jadi Bintang
Mirip Tragedi Besar Tahun 2010
Insiden ini disebut memiliki kemiripan dengan Kecelakaan Kereta Api Petarukan 2010 yang menewaskan puluhan orang.
Kesamaannya terletak pada jenis kecelakaan “rear-end collision” atau tabrakan dari belakang, yang umumnya dipicu oleh kegagalan membaca sinyal atau faktor manusia.
Baca Juga: Prabowo Lantik Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup, Faisol Hanif Diganti
Kesaksian Mencekam Korban Selamat
Salah satu penyintas mengaku tabrakan terjadi sangat cepat dan membuat penumpang bertumpuk di dalam gerbong. Kondisi di dalam kereta disebut gelap dan kekurangan oksigen.
Baca Juga: Inter Milan Ditahan Torino 2-2, Dua Gol Thuram dan Bisseck Tak Cukup
Banyak korban terjebak di bagian bawah gerbong dan kesulitan bernapas hingga akhirnya kehilangan nyawa.
Respons Pemerintah dan Evaluasi Besar-besaran
Presiden Prabowo Subianto langsung meninjau korban di rumah sakit dan memerintahkan investigasi menyeluruh.
Pemerintah juga menyoroti banyaknya perlintasan sebidang yang belum aman, termasuk sekitar 1.800 titik di Pulau Jawa yang dinilai berisiko tinggi.
Baca Juga: Skor Milan vs Juventus 0-0, Rossoneri Gagal Kunci Posisi 3 Besar
Sebagai langkah awal, pemerintah berencana membangun flyover serta meningkatkan sistem keselamatan perkeretaapian dengan anggaran mencapai Rp4 triliun.
Baca Juga: Como Bungkam Genoa 2-0, Tekan Juventus di Zona Liga Champions
Sorotan pada Gerbong Khusus Perempuan
Dalam insiden ini, korban terbanyak berasal dari gerbong khusus perempuan yang berada di bagian belakang rangkaian KRL—titik yang pertama kali dihantam.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong perempuan dipindahkan ke tengah rangkaian demi meningkatkan keselamatan.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Drastis, Penjualan Mobil Diesel Terancam Lesu
Kesimpulan
Kecelakaan di Bekasi Timur menjadi alarm serius bagi sistem transportasi kereta di Indonesia. Kombinasi faktor teknis, manusia, dan infrastruktur menjadi perhatian utama yang harus segera dibenahi.
Evaluasi menyeluruh, modernisasi sistem sinyal, serta peningkatan keamanan di perlintasan sebidang menjadi langkah penting agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Editor : Ubaidillah