RadarBangkalan.id - Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Kurs pasangan mata uang USD/IDR sempat menembus level psikologis Rp17.500 per Dolar AS, menandai pelemahan lanjutan di tengah tingginya tekanan eksternal.
Berdasarkan data perdagangan real-time, rupiah tercatat melemah 90,1 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.495 per Dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang domestik bergerak dalam rentang Rp17.395 hingga Rp17.519 per Dolar AS.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Guru Non-ASN Tetap Digaji dan Mengajar pada 2026, Ini Aturannya
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, mulai dari harga minyak dunia yang tinggi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Salah satu faktor utama yang membebani pasar adalah belum pulihnya situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut masih terganggu akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Laporan internasional menyebut harapan tercapainya kesepakatan damai kembali menurun setelah Donald Trump menolak proposal balasan dari Iran. Sementara pihak Tehran tetap menuntut penghentian blokade laut, kompensasi kerugian perang, pemulihan ekspor minyak, serta pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Baca Juga: MCS Desak Kodim 0828 Sampang Buka Data Anggaran Proyek KDMP, Ada Dugaan Kejanggalan
Kondisi ini membuat distribusi minyak global belum kembali normal. Akibatnya, harga minyak mentah tetap tinggi. Minyak WTI kontrak Juni 2026 tercatat naik ke US$98,93 per barel, sedangkan Brent kontrak Juli 2026 bertahan di atas US$104,91 per barel.
Baca Juga: Dugaan Mark Up Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan, 5 Dapur Yayasan Al Anwar Jadi Sorotan
Harga minyak yang tinggi menjadi tekanan tambahan bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Kondisi ini dapat meningkatkan beban impor, mendorong inflasi, serta menekan posisi fiskal pemerintah.
Dari sisi domestik, data ekonomi menunjukkan sinyal campuran. Penjualan ritel Indonesia pada Maret 2026 tumbuh 3,4 persen secara tahunan, melambat dibanding Februari yang mencapai 6,5 persen. Perlambatan ini menandakan daya beli masyarakat masih menghadapi tantangan.
Baca Juga: Video Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok, Netizen Soroti Dugaan Settingan dan Link Berbahaya
Pasar juga menyoroti lonjakan utang pemerintah yang mendekati Rp10.000 triliun. Hingga akhir Maret 2026, total utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun. Meski pemerintah menyatakan rasio utang terhadap PDB masih aman di 40,75 persen, kenaikan nominal utang menjadi perhatian investor di tengah rupiah lemah.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan. Data ini menjadi penopang fundamental ekonomi nasional, meski belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari eksternal.
Pasar kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan menjadi penentu arah berikutnya bagi dolar AS. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS diproyeksikan naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan.
Baca Juga: Cara Cek Penerima PKH dan BPNT Mei 2026, Ada 475 Ribu KPM Baru dari Kemensos
Jika inflasi AS lebih tinggi dari ekspektasi, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Sebaliknya, jika data inflasi lebih rendah, rupiah berpeluang mendapat ruang penguatan. Namun pemulihan diperkirakan tetap terbatas selama harga minyak dunia masih tinggi dan konflik di Selat Hormuz belum mereda.
Editor : Ubaidillah