RadarBangkalan.id - Nilai tukar Rupiah hari ini kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi Selasa, 12 Mei 2026. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.504 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak awal pekan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat turun 88 poin atau sekitar 0,51 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini menandakan tekanan terhadap pasangan mata uang USD/IDR masih cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Tekanan Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu
Pelemahan rupiah menjadi perhatian pelaku pasar karena kurs dolar AS terus menunjukkan penguatan terhadap mayoritas mata uang emerging market. Kondisi ini dipicu kombinasi sentimen eksternal, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat hingga gejolak geopolitik yang memengaruhi arus modal global.
Pergerakan Mata Uang Asia Beragam
Di kawasan Asia, sejumlah mata uang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,24 persen, dolar Singapura turun 0,17 persen, sementara won Korea Selatan mencatat penurunan paling tajam sebesar 0,86 persen.
Baca Juga: MCS Desak Kodim 0828 Sampang Buka Data Anggaran Proyek KDMP, Ada Dugaan Kejanggalan
Selain itu, peso Filipina melemah 0,49 persen dan rupee India turun 0,87 persen. Di sisi lain, beberapa mata uang justru mampu menguat tipis, seperti yuan China yang naik 0,06 persen, ringgit Malaysia 0,03 persen, serta dolar Hong Kong 0,01 persen.
Baca Juga: Video Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok, Netizen Soroti Dugaan Settingan dan Link Berbahaya
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar mata uang regional.
Mata Uang Eropa Bergerak Campuran
Di pasar Eropa, pergerakan mata uang terhadap dolar AS juga bervariasi. Euro menguat 0,17 persen dan pound sterling naik 0,14 persen. Namun, franc Swiss melemah 0,19 persen, diikuti krona Swedia yang turun 0,22 persen serta krona Denmark melemah 0,15 persen.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Guru Non-ASN Tetap Digaji dan Mengajar pada 2026, Ini Aturannya
Pergerakan yang tidak seragam di berbagai kawasan menunjukkan pasar global masih dibayangi sentimen kehati-hatian. Investor cenderung menunggu data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve.
Sentimen Global Masih Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Penguatan dolar AS, harga komoditas energi yang tinggi, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang membatasi ruang penguatan mata uang domestik.
Baca Juga: Diduga KPK Gadungan Datangi Desa di Bangkalan, Minta Data Dana Desa Secara Mencurigakan
Pelaku pasar juga menyoroti perkembangan inflasi AS dan arah suku bunga The Fed. Jika data ekonomi Amerika menunjukkan penguatan, dolar AS berpotensi semakin perkasa dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan kurs dollar hari ini masih akan menjadi perhatian investor, pelaku usaha, hingga masyarakat yang memantau perkembangan nilai tukar untuk kebutuhan transaksi dan investasi.
Baca Juga: Dugaan Mark Up Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan, 5 Dapur Yayasan Al Anwar Jadi Sorotan
Editor : Ubaidillah