RadarBangkalan.id - Bank Indonesia (BI) akhirnya angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda disebut dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menjelaskan, gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu penyebab utama pelemahan rupiah. Konflik yang terus berlangsung mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia serta meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Tekanan Global dan Harga Minyak Jadi Pemicu
Menurut BI, situasi di kawasan tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman, sehingga memperkuat dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Harga Minyak dan Ketidakpastian Global Tekan Rupiah
Kenaikan harga minyak dunia menjadi sentimen penting yang memperburuk tekanan terhadap rupiah. Konflik di Timur Tengah mendorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global, sehingga harga minyak bertahan di level tinggi.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Guru Non-ASN Tetap Digaji dan Mengajar pada 2026, Ini Aturannya
Kondisi ini berdampak langsung pada negara pengimpor energi seperti Indonesia. Ketika harga minyak naik, kebutuhan devisa untuk impor meningkat, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Baca Juga: MCS Desak Kodim 0828 Sampang Buka Data Anggaran Proyek KDMP, Ada Dugaan Kejanggalan
Destry menegaskan bahwa tekanan dari eksternal tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian global, membuat pergerakan pasar valuta asing semakin volatil.
Faktor Domestik: Pembayaran Utang dan Musim Haji
Selain sentimen global, BI juga mencatat faktor domestik turut memengaruhi pelemahan rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan musiman.
Permintaan valas naik seiring pembayaran utang luar negeri (ULN) oleh korporasi, pembagian dividen kepada investor asing, serta kebutuhan dana perjalanan ibadah haji.
Baca Juga: Video Guru Bahasa Inggris Viral di TikTok, Netizen Soroti Dugaan Settingan dan Link Berbahaya
Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik meningkat signifikan dalam jangka pendek. Akibatnya, tekanan terhadap kurs rupiah semakin besar.
BI Intervensi Pasar untuk Stabilkan Rupiah
Bank Indonesia menegaskan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter untuk meredam gejolak di pasar keuangan. Langkah ini diambil agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam.
Baca Juga: Diduga KPK Gadungan Datangi Desa di Bangkalan, Minta Data Dana Desa Secara Mencurigakan
Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat aliran modal asing masih menunjukkan tren positif. Sepanjang April 2026, arus dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI tercatat mencapai Rp61,6 triliun.
Bank sentral juga menyebut likuiditas valas di dalam negeri masih cukup terjaga. Dana Pihak Ketiga (DPK) valas hingga akhir Maret 2026 tumbuh 10,9 persen secara year-to-date.
Baca Juga: Dugaan Mark Up Program Makan Bergizi Gratis di Bangkalan, 5 Dapur Yayasan Al Anwar Jadi Sorotan
BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan dipengaruhi faktor musiman. Setelah kebutuhan valas mereda, rupiah diyakini dapat kembali bergerak menuju level fundamentalnya.
Editor : Ubaidillah