News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Rupiah Nyaris Rp 17.800 per Dolar AS, Purbaya Mengaku Stres: Ini Nggak Masuk Akal

Ubaidillah • Kamis, 28 Mei 2026 | 06:09 WIB
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT

 

RadarBangkalan.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah hampir menyentuh level Rp 17.800 per dolar AS. Kondisi ini membuat Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus stres karena pelemahan terjadi di tengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.

Menurut Purbaya, biasanya pelemahan rupiah terjadi ketika terdapat gangguan serius pada fundamental ekonomi. Namun kondisi saat ini dinilai berbeda karena berbagai indikator ekonomi domestik masih relatif positif.

“Ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan.

Baca Juga: 5 Link Twibbon Iduladha 2026 Gratis untuk WhatsApp, Instagram, dan Facebook

Meski rupiah terus tertekan, pemerintah disebut belum merasa perlu melakukan penghitungan ulang terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya menegaskan berbagai simulasi, termasuk skenario harga minyak dunia hingga US$ 100 per barel dan pelemahan rupiah, sebelumnya sudah diperhitungkan pemerintah.

Ia bahkan sempat berkelakar bahwa bukan APBN yang stres, melainkan dirinya sendiri.

Baca Juga: Kumpulan Ucapan Idul Adha 2026 Penuh Doa, Islami, dan Estetik

“Ya, saya stres. Kita sudah hitung semuanya, termasuk asumsi kurs saat simulasi harga minyak US$ 100 per barel,” katanya.

Baca Juga: Niat dan Tata Cara Shalat Iduladha Lengkap untuk Imam dan Makmum

Di tengah pelemahan rupiah, pemerintah menilai pasar obligasi Indonesia masih cukup stabil. Hal ini tercermin dari penurunan yield obligasi yang terjadi berkat langkah intervensi pemerintah melalui operasi pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Baca Juga: Teks Takbiran Idul Adha Pendek dan Panjang Lengkap dengan Artinya

Menurut Purbaya, langkah pembelian obligasi yang dilakukan pemerintah membantu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar domestik.

“Walaupun rupiah melemah, bond yield turun karena aksi pemerintah menjaga pasar obligasi tetap terkendali,” jelasnya.

Ia menambahkan, stabilitas pasar obligasi menjadi faktor penting untuk menjaga arus modal asing tetap masuk ke Indonesia. Pemerintah juga disebut akan menyiapkan langkah tambahan guna membantu penguatan nilai tukar rupiah ke depan.

Baca Juga: BGN Ancam Hentikan Operasional Dapur MBG yang Tak Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), dolar AS tercatat menguat 0,29 persen atau naik 52 poin ke level Rp 17.795.

Editor : Ubaidillah
#nilai tukar #rupiah #Purbaya Yudhi Sadewa #dolar as