RadarBangkalan.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan yang bertepatan dengan libur Idul Adha 2026, Rabu (27/5/2026).
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.790 hingga Rp 17.850 per dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp 17.800 per Dolar AS, Purbaya Mengaku Stres: Ini Nggak Masuk Akal
“Untuk perdagangan saat libur Idul Adha, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.790 sampai Rp 17.850,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah melemah 52 poin ke level Rp 17.796 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.744. Selama sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat terdepresiasi hingga 55 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan pasar.
Baca Juga: 5 Link Twibbon Iduladha 2026 Gratis untuk WhatsApp, Instagram, dan Facebook
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah yang berlangsung berkepanjangan mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama pada sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor.
Kenaikan nilai dolar AS membuat biaya produksi perusahaan meningkat, khususnya pada industri manufaktur yang menggunakan komponen impor dalam jumlah besar. Di sisi lain, perlambatan permintaan ekspor juga memperbesar tekanan terhadap perusahaan.
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Idul Adha 2026 Penuh Doa, Islami, dan Estetik
Kondisi tersebut dinilai mendorong sejumlah pelaku usaha melakukan langkah efisiensi, mulai dari pengurangan produksi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Baca Juga: Kumpulan Ucapan Idul Adha 2026 Penuh Doa, Islami, dan EstetikBaca Juga: Niat dan Tata Cara Shalat Iduladha Lengkap untuk Imam dan Makmum
“Pelemahan rupiah terhadap dolar AS meningkatkan biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko PHK,” jelas Ibrahim.
Dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan di sejumlah sektor industri. Salah satu contohnya adalah penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang menyebabkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan.
Baca Juga: Teks Takbiran Idul Adha Pendek dan Panjang Lengkap dengan Artinya
Tekanan serupa juga mulai terjadi di sektor otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor membuat daya beli masyarakat melemah sehingga penjualan kendaraan ikut menurun.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, perusahaan otomotif CV Asri dilaporkan melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat turunnya permintaan pasar.
Selain sektor elektronik dan otomotif, tekanan akibat pelemahan rupiah juga mulai dirasakan industri tekstil, garmen, dan alas kaki yang sangat sensitif terhadap perubahan kurs dolar AS.
Editor : Ubaidillah