News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Gunung Merapi di Sumatera Barat Kembali Alami Eruspsi, Begini Statusnya Sekarang

Ajiv Ibrohim • Rabu, 21 Februari 2024 | 16:55 WIB
Erupsi Gunung Marapi, Sumatra Barat. (Antara)
Erupsi Gunung Marapi, Sumatra Barat. (Antara)

Radarbangkalan.id – Aktivitas vulkaniknya yang tinggi telah menyebabkan terjadinya empat letusan, dengan ketinggian abu vulkanik yang melonjak hingga mencapai 900 meter dari puncak gunung.

Posko Petugas Gunung Api (PGA) Gunung Marapi mencatat waktu letusan yang terjadi pada pukul 09.12 WIB, 17.58 WIB, 18.22 WIB, dan 19.03 WIB.

Ketua PGA, Ahmad Rifandi, mengungkapkan bahwa letusan pukul 18.22 WIB merupakan yang paling signifikan, dengan ketinggian abu vulkanik mencapai 900 meter atau setara dengan ketinggian 3.791 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu erupsi teramati berwarna kelabu dengan intensitas yang condong ke arah tenggara.

Aktivitas ini tercatat dalam seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 7,6 milimeter dan durasi sementara selama 56 detik.

Meskipun telah terjadi serangkaian letusan, status Gunung Marapi masih tetap berada pada level III (siaga).

Dalam konteks ini, masyarakat dihimbau untuk tidak memasuki wilayah radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi, atau yang dikenal sebagai kawah Verbeek.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menggunakan masker guna melindungi saluran pernapasan dari hujan abu vulkanik yang mungkin terjadi, serta untuk melindungi mata dan kulit dari dampaknya.

Selain itu, langkah-langkah preventif lainnya seperti menjaga kebersihan air bersih dan membersihkan atap rumah dari abu vulkanik juga sangat disarankan.

Baca Juga : Strategi Elektoral Partai Golkar dalam Pemilu 2024: Berkah Dukungan untuk Jokowi

Reaksi dari masyarakat sekitar Gunung Marapi juga mencerminkan ketegangan yang dirasakan akibat letusan ini.

Seorang warga, Syifa Fathiya, menyatakan bahwa suara gemuruh dari letusan tersebut terdengar cukup jelas di Kecamatan Ampek Angkek Agam, bahkan terdengar lebih kuat pada malam hari.

Hal ini telah mempengaruhi pola aktivitas masyarakat, yang lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah sebagai langkah pencegahan.

Baca Juga : Perundungan Anak Vincent: Video 42 Detik Pembullyan Anak, Kondisi Korban Perundungan Anak di Binus Serpong

Sejak erupsi utama yang terjadi pada awal Desember 2023, telah tercatat sebanyak 178 kali letusan, dengan 39 di antaranya terjadi hanya pada bulan Februari ini.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, menegaskan bahwa potensi bahaya dari Gunung Marapi tetap tinggi.

Dia mengingatkan bahwa jika pasokan magma dari dalam bumi terus bertambah atau bahkan meningkat, erupsi yang lebih besar dengan ancaman bahaya dari lontaran material vulkanik bisa saja terjadi.

Baca Juga : Gerakan Keadilan Rakyat: Teriakan Aksi Nyata Suara Rakyat Terhadap Integritas Pemilu 2024

Selain itu, Hendra juga menyoroti potensi bahaya lainnya seperti lapili atau pasir yang dapat menjangkau wilayah hingga radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi.

Dia juga menambahkan bahwa sebaran abu vulkanik bisa menyebar lebih jauh atau lebih luas tergantung pada arah dan kecepatan angin.

Selain abu vulkanik, potensi bahaya lainnya adalah terjadinya banjir lahar dingin, yang dapat terbentuk dari material erupsi yang terendapkan di puncak dan lereng Gunung Marapi.

Karena potensi bahaya yang masih tinggi, masyarakat di sekitar Gunung Marapi dihimbau untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan situasi dari otoritas terkait.

Langkah-langkah pencegahan dan persiapan yang tepat diharapkan dapat mengurangi dampak yang mungkin timbul akibat aktivitas vulkanik yang belum stabil ini. ***

GRAFIS (SIGIT AP/JPRM)
GRAFIS (SIGIT AP/JPRM)
Editor : Ajiv Ibrohim
#erupsi #gunung merapi