News Viral Showbiz Otomotif Teknologi Food & Travel Sport Opini Kesehatan Video

Zikir vs Wirid: Menyingkap Esensi Ibadah dan Pengaruhnya Terhadap Hati

Raditya Mubdi • Minggu, 25 Februari 2024 | 19:44 WIB
Ilustrasi sholat sumber IStockphoto
Ilustrasi sholat sumber IStockphoto

RadarBangkalan.id - Perjalanan spiritual seringkali membawa kita pada pertanyaan mendalam tentang bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Dalam pandangan Islam, "dzikir" dan "wirid" muncul sebagai dua aspek utama dalam ibadah, mengandung makna yang mendalam dan memerlukan pemahaman yang lebih dalam.

Dari segi bahasa, RadarBangkalan.id mengulas bahwa "dzikir" berasal dari akar kata "dzakara-yadzkuru-dzikran," mengandung arti "menyebut, mengucapkan, mengagungkan, mensucikan, dan mengingat."

Sementara itu, "wirid" berasal dari "warada-yaridu-wuruda," seakar kata dengan "wardah" yang artinya "bunga mawar."

Dalam pengertian populer, keduanya sering diartikan sebagai "penyebutan dan penyucian nama Allah SWT," menciptakan nuansa penghormatan yang mendalam.

Termasuk dalam makna keduanya adalah membaca Kalam Allah, yakni Al-Qur’an. Meskipun mempunyai tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, perbedaan mendasar muncul dalam ketentuan penyebutan dan pengungkapan.

Zikir: Kebebasan dalam Pengingatan Allah

Dalam praktik "zikir," kebebasan menjadi kuncinya. Tidak ada ketentuan khusus terkait jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya.

Bacaan yang dibacakan saat zikir pun tidak diikat pada ketentuan tertentu, bergantung pada apa yang dihafal atau dikuasai oleh individu.

Zikir terkesan sebagai praktik yang bersifat temporary. Dilakukan saat hati sedang dalam keadaan khusus atau mood tertentu,

seperti menghadapi masalah, memiliki hajat besar, atau dalam keadaan bahagia sebagai ungkapan rasa syukur.

Wirid: Kepermanenan dalam Pengabdian

Sebaliknya, "wirid" tampil dengan ketentuan yang lebih kaku. Ditentukan jenis bacaan, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya.

Wirid memerlukan disiplin dan konsistensi, menjadi suatu rutinitas yang diterapkan terus-menerus.

Seseorang yang berpraktik wirid selalu mengamalkan rutinitas wiridnya, dan meninggalkannya seakan meninggalkan suatu kewajiban.

Perbedaan ini membawa pandangan bahwa di mata keagamaan, ahli wirid dianggap lebih kuat ketimbang ahli zikir, mengingat kedisiplinan dan keteguhan yang diperlukan dalam melaksanakan wirid.

Al-Qur'an: Pendorong Utama Zikir dan Wirid

Baca Juga: Pertempuran Sengit! Bournemouth Vs Man City: The Citizens Menang Susah Payah

Dalam perspektif Islam, baik zikir maupun wirid sangat dianjurkan, sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur'an.

Ayat "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (Q.S. al-Ra’d/13:28) memberikan informasi mengenai ketenangan hati melalui zikir dan mengingat Allah SWT.

Ayat lainnya, "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang" (Q.S. al-Ahdzab/33:42), mendorong untuk meningkatkan zikir menjadi wirid.

Rasulullah SAW sendiri telah mengisyaratkan agar pengamalan zikir dilembagakan dan diamalkan secara terukur menjadi wirid.

Hadis dan Praktik di Masyarakat

Dalam kitab Riyadh al-Shalihin, terdapat riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw memberikan petunjuk dalam praktik dzikir.

Para pekerja dan pelayan saat itu diajarkan untuk membaca subhanallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali setelah shalat fardhu.

Rasulullah Saw menjamin bahwa kedudukan mereka di mata Allah setara dengan tuan-tuan mereka jika mengamalkan wirid ini setiap usai shalat fardhu.

Kelompok pekerja dan pelayan yang melaksanakan wirid ini menarik perhatian tuan-tuan mereka, bahkan turut mengamalkan wirid sebagai bagian dari ibadah mereka.

Permintaan dari kelompok pekerja dan pelayan agar diberikan praktik lain yang membuat mereka tidak kalah di akhirat, dijawab oleh Rasulullah Saw dengan kata-kata bijak, "Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya."

Penutup: Perbandingan yang Mencerahkan

Baca Juga: Lengkap! Bacaan Niat Sholat Hajat, dengan Doa dan Tata Caranya

Dalam perjalanan spiritual, baik zikir maupun wirid memiliki keindahan dan makna tersendiri. Zikir memberikan kebebasan dan spontanitas, sementara wirid membawa kepermanenan dan kedisiplinan. Keduanya, dalam esensinya, memiliki tujuan yang sama, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Allahu A’lam.***

Editor : Raditya Mubdi
#allah #Wirid #zikir